IBU DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF

06022009005

Oleh : Ibrohim Nawawi
A. Pendahuluan
Ungkapan luhur mengatakan ibu adalah guru yang pertama dan paling utama bagi anak. Ungkapan ini tidaklah berlebihan bila melihat peran dan fungsi ibu dalam rumahtangga terlebh dalam menyiapkan generasi penerus. Siang malam bahkan dari pagi sampai pagi kembali ibu berkutat dengan suami, anak-anak dan rumah. Keterlibatan mereka tidak melulu mengurus rumahtangga tetapi yang lebih essensial adalah mendidik seisi rumah bekerjasma dengan suami sang kepala rumahtangga, nakhoda bahtera dalam mengarungi samudera kehidupan.
Peran ibu sebagai pendidik yang utama dan paling pertama belum disadari (kalaupun sudah, belum menjadi gerakan yang menyeluruh) sepenuhnya oleh para ibu, apalagi dengan alasan wanita karier. Wanita karier beranggapan bahwa isteri tidak hanya beraktivitas dalam wilayah domistik, mengurusi anak dan suami tetapi berhak pula untuk membantu suami bekerja menghasilkan pendapatan. Hal ini tidak salah bila melihat kesetaraan gender. Namun ada satu hal yang luput dari pengamatan bahwa wanita karirpun semestinya tidak lepas dari perannya sebagai ibu bagi anak-anak dan pendamping setia suaminya.
Kembali ke rumah (back to family) merupakan gerakan moral untuk memposisikan ibu pada tempat yang proporsional dengan tidak mengeyampingkan membantu suami dalam segala hal termasuk didalamnya mencari tambahan pendapatan keluarga. Kembali ke rumah mempunyai makna edukasi terhadap lembaga (institusi) keluarga. Rumah tidak saja sebagai tempat tinggal namun sebagai tempat transfer of knowledge (mentransfer ilmu pengetahuan), transfer of culture (pewarisan budaya) serta caracter and personality building (tempat membangaun karakter dan kepribadian) 2.
Rumah merupakan tempat pembentukan perilaku bagi anggota rumah baik anak-anak, suami (ayah) maupun isteri (ibu). Perilaku-perilaku individu merupakan akumulasi dari interaksi antar anggota masyarakat terutama yang berada di dalam rumah. Anak lelaki akan mencari figur pada seorang ayah demikian pula anak gadis akan mencari figur perempuan kepada ibunya. Pembentukan perilaku bukan hal yang instant tetapi merupakan proses yang continue, berangsur-angsur dan intens. Hal ini dapat diamati dari tumbuhkembangnya anak dari pertumbuhan fisik dan perkembangan psikis. Pertumbuhan dan perkembangan meliputi pertumbuhan fisik-biologis-jasmani, perkembangan kognitif dan sosio-emosional. Perkembangan ini salain terkait untuk pembentukan watak, perilaku anak khususnya yang terjadi di dalam rumahtangga.
Beberapa latar belakang tersebut menjad sangat urgen untuk ditelaah tentang peran dan tipe-tipe ibu dalam mendidik dan membentuk karakter perilaku anak dan anggota rumah yang berada dalam tanggungjawabnya sehingga melahirkan lingkungan kondusif dalam membentuk perilaku. Kompleksitas peran dan fungsi ibu di rumah bila ditinjau dari sisi ini sungguh sangat bermakna, belum lagi bila rumah dalam gambaran Nabi “baetie jannatie” rumahku surgaku. Rumah merupakan labuan akhir untuk menikmati kehidupan, rumah adalah tempat tertumpahkannya seluruh kenikmatan yang ada di dunia ini.
B. Peran Ibu Dalam Rumahtangga
Allah menciptkan manusia berpasang-pasangan yaitu laki-laki dan perempuan. Inilah taqdir, hak prerogative Tuhan. Manakala ada individu yang menginginkan pasangan hidupnya sesama jenis berarti sudah menyalahi taqdir. Laki-laki suka kepada sesame jenis (homo) dan juga sebaliknya (lesbi) merupakan penyimpang terhadap ketentuan. Sedangkan untuk menciptakan kesakinahan, keharmonisan, kebahagiaan, mawadah, wa rahmah merupakan ikhtiar manusia seutuhnya3.
Peran ibu dalam rumahtangga dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu :
1. Dimensi Biologis
Melalui lembaga “nikah”, kebutuhan naluriah yang pokok dari manusia (yang mengharuskan dan mendorong adanya hubungan antara pria dan wanita) tersalurkan secara terhormat sekaligus memenuhi panggilan watak kemasyarakatan dari kehidupan manusia itu sendiri dan panggilan moral yang ditegakan oleh agama. Sementara itu kesejahteraan keluargapun akan terwujud secara simultan, jika dapat dikhayati dengan baik makna dan nilai dibalik “nikah“ itu.
Pemaknaan ini tentunya didukung dengan pemahaman dan kesadaran pasangan suami isteri dalam mengarungi kehidupan rumahtangga. Lembaga perkiawinan merupakan tempat berlangsungnya pelestarian ketrunan atau melahirkan generasi berikutnya. Makna biologis adalah menyalurkan naluri biologis yang dimiliki oleh setiap manusia untuk bersama-sama melangsungkan keturunan.
Manusia hidupnya sudah diaqdirkan ada laki-laki dan perempuan. Berulang-ulang hakikat ini ditegaskan oleh al-Qur’an antara lain dalam surat Al-Qur’an surat Al-Adzariyat, ayat 49 :
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya : “Segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu menyadari (kebesaran Allah).
2. Dimensi Ekonomis
Peran ini menuntut sorang ibu disamping sebagai menejer keuangan dalam rumahtangga juga diharapkan dapat membantu memperoleh tambahan pendapatan. Munculnya wanita karier pada dasarnya memenuhi rasa keterpanggilan isteri untuk untuk membantu suaminya memperoleh pendapatan lebih, membantu keuangan rumahtannga sehingga dapat memenuhi seluruh kebutuhan kehidupannya
3. Dimensi Budaya
Rumahtangga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Lingkungan ini menawarakan model-model budaya yang siap untuk diwariskan kepada anggota keluarganya. Sopan santun dalam berbicara, adat-istiadat bertingkahlaku, adab bergaul merupakan item-item yang diwariksan orang tua kepada anak-anaknya.
Di dalam rumah akan terjadi transfer of culture. Ibu sebagai individu yang selalu intens berada dalam rumah merupakan actor untuk berperan terhadap pewarisan budaya. Ibu meerupakan agen of cange terhada budaya-budaya yang berlaku di masyarakat. Oleh karena ibu yang paling sering berkomunikasi dengan anak-anak maka sadar atau tidak penyaluran adat dan budaya akan selalu terjadi. Anak-anak yang memiliki sifat adaptation akan selalu ingin meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya.4
4. Dimensi Sosial
Peran ini menuntut seorang ibu untuk beraktivitas disamping mampu memberikan jiwa sosial kepada anak juga menjadi anutan dan ujung terdepan dalam proses sosialisasi keluarga terhadap masyarakat.
Ibu-ibu sering bertandang ke tetangga, keluarga dan masyarakat. Kesempatan inilah yang digunakan untuk mengenalkan keluarga dalam komunitas yang lebih luas. Dalam rumah ibu membangun jiwa social terhadap anak dan keluarganya agar anak kelak menjadi individu yang berjiwa social.
5. Dimensi Spritual
Dimensi spiritual merupakan dimensi yang fundamental dalam kehidupan manusia. Ibu sebagai guru yang pertama dan utama memiliki peran dalam memberikan kebiasaan berperlaku yang berada dalam norma-norma agama sehingga anak memiliki pemahaman, penghayatan dan pengamalan keagamaan yang baik dan konsisten (religion expeience; pengalaman keagamaan, religion action; aktivitas keagamaan end peak religion; puncak kenikmatan beragama)5.
C. Peran Ibu Dalam Tumbuhkembannya Anak
Psikologi membedakan pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhna lebih mengarah kepada aspek fisik sedangkan perkembangan berdimensi psikis. Secara umum perkembangan adalah suatu proses perubahan dalam diri individu atau organisme, baik fisik (jasmaniah) maupun psikis (rohaniah) menuju tingkat kedewasaan atau kematangan yang berlangsung secara sistematis, progresif, dan continue (berkesinambungan) dari mulai masa konsepsi sampai akhir hayat. Perubahan sistematis maksudnya perubahan yang bersifat saling mempengaruhi antar aspek perkembangan. Progresif adalah perubahan yang bersifat maju, meningkat, mendalam, atau meluas. Sedangkan berkesinambungan maksudnya bahwa perubahan tersebut akan terjadi berlangsung secara berurutan atau beraturan.
Arti yang lain menyebutkan bahwa perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Dalam perkembangan terdapat pertumbuhan. Pola gerakan itu kompleks karena merupakan hasil (produk) dari beberapa proses: proses biologis, proses kognitif dan proses sosial.6. Adapun tugas-tugas perkembangan (developmental tasks) adalah sikap, pengetahuan, dan keterampilan (perbuatan atau tingkah laku) yang seyogyanya dimiliki oleh setiap individu sesuai dengan fase perkembangannya. Hurlock mengemukakan bahwa tugas-tugas perkembangan merupakan social expectations (harapan-harapan sosial-masyarakat)7. Dalam arti setiap kelompok budaya mengharapkan para anggotanya menguasai keterampilan tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui bagi berbagai usia sepanjang rentang kehidupan. Pertumbuhsn dan perkembangan individu tidak terlepas dari tiga aspek, pertama aspek biologis, kedua aspek kognitif dan ketiga aspek sosioemosional 8.
1. Fisik-Biologis
Kajian psikologi menyebutkan bahwa pertumbuhan lebih dominan pembahasannya dari sudut fisik atau biologis. Pertumbuhan ini dimulai dari pra-natal, pra natal, bayi, anak-anak, remaja, dewasa. Proses perubahan dalam tubuh anak melipti ;Perkembangan otak, Perkembangan berat dan tinggi badan, Perubahan dalam kemampuan bergerak, perubahan hormonal.
2. Kognitif
Perkembangan kognitif bermakna berkembang kecerdasan.Otak mulai berfungsi menjadi sebuah proses berfikir. Proses perubahan dalam pemikiran, kecerdasan dan bahasa anak. Proses perkembangan kognitif memampukan anak untuk mengingat puisi, membayangkan menyelsaikan soal matematika, menyusun strategi kreatif atau menghubungkan kalimat menjadi pembicaraan yang bermakna.
3. Sosioemosional
Proses perubahan terhadap hubungan anak dengan orang lain, Perubahan dalam emosi, Perubahan dalam kepribadian. Pengasuhan anak,perkelahian anak, perkembangan kategasan, perasaan gembira merupakan cerminan proses perkembangan sosioemosional. Perkembangan social ini menyangkut hubungan antara individu satu dengan individu yang lain. Interaksi ini dimlai dari dalam rumah. Ibulah yang pertama kali mengenalkan system social, cara berinteraksi dengan orang lain, kerjasama, menghargai sesama dan hubungan harmonis dengan anggota rumahtangga lainnya.
Sosial-emosinal ditanamkan kepada anak untuk mempersiapkan diri ketika terjun di tengah-tengah masyarakat. Penanaman semenjak dini dari aspek social ini akan membentuk anak dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Mereka dapat bergaul dan menyesuaikan diri dengan masyarakat sehingga menjadi bagian penting dari komunitas lingkungan dimana bertempat tinggal.
D. Tipe-Tipe Ibu Dalam Mendidik
1. Tipe Playful Mother (Ibu yang Menyenangkan)
Ibu yang memiliki tipe ini cenderung memiliki karakter yang spontan, tidak banyak fikiran, suka bereksperimen, trendi dan hangat. Tipe ini dapat memposisikan sebagai teman bagi anaknya dapat mendorong rasa ingin tahu9. Bahkan mampu mengarahkan kenakalan anak-anaknya, bersikap kriris terhadap lingkungan.
Orang tua terutama ibu tidak dianggap sebagai sosok yang menakutkan tetapi menjadi teman yang saling berbagi, shering terhadap masalah-maslah yng dihadapi anak-anaknya. Hubungan yang setara ini dapat menumbuhkan sifat demokratis dan fleksibel kepada aturan-aturan tetapi penh dengan tanggungjawab.
2. Tipe Natural Mother (Ibu yang alami)
Tipe ini memiliki kepibadian ceria, pintar, penuh kasih sayang. Ibu menginginkan anaknya hidup bahagia, mandiri dan terbuka.10 Ia menggunakan pendekatan santai dalam mendidik anaknya sehingga seolah-olah kelihatan alami. Hal ini nampak sangat natural, sebagaimana alaminya seorang ibu yang selalu ingin menunjukan kasih sayang, mudah bergaul.
Ibu yang memiliki tipe ini dapat membentuk lingkungan, lebih peduli untuk mendorong anaknya lebih mandiri, dia menyadari bahwa masa anak harus dinikmati. Tidak heran dalam setiap aktivitasnya selalu mengarahkan dirinya menjadi sosok ibu yang alami dan kodrati.
3. Tipe Protektive Mother (Ibu pelindung)
Protektive mother adalah ibu yang berjiwa protektif (ibu yang selalu ingin melindungi anak-anaknya bahkan cnderung over protektive). Ibu sangat hati-hati, rajin, mengabdi, lembut konservatif dan tidak suka resiko. Ia menginginkan anaknya innocent, lemah lembut dan bahagia, berharga dan terlindungi. Ia menginginkan dirinya menjadi sumber utama yang memberikan perlindungan bagi kenyamanan anaknya. Anak adalah segalanya.
Namun kadang terlalu proteksi terhadap sehingga bagi anak pada masa-masa tertentu merupakan hambatan bla tidak dikomunikaikan secara harmonis. Tipe ini mirip dengan pola orang tua yang asertif yaitu tegas, senantiasa menunjukan sikap jelas, tegus dan tak terbantahkan11
4. Tipe Indpendent Mother (Ibu Mandiri)
Ibu yang memiliki tipe indpenden ini lebih bersikap aktif, suka berpetualang, berani dan mandiri. Menginginkan anaknya energik, sehat dan mandiri, selalu ingin tahu terhadap hal-hal yang baru12. Ibu ini percaya dengan kemampuannya dalam menjalankan perannya dan bisa bersikap tenang. Menjadi ibu adalah petualangan yang penuh kenikmatan.
Kemandirian ibu tersebut memberikan semangat dalam menjalankan tugasnya di rumah. Mereka tidak mau tergantung dengan orang lain. Suami merupakan partner kerja yang sinergis untuk mengelola rumahtangga berdasarkan tugas atau job yang disadari masing-masing
5. Tipe The Ambitius Mother (Ibu Ambisius)
Tipe ibu ini lebih eroreintasi pada tujuan yang mengharapkan kesuksesan. Dia lebih mementingkan gaya, dan cenderung penuntut13. Harapannya besar kepada anaknya, disetiap kesepatan berharap anaknya bisa penjadi pemenangnya. Tipe ini besikap disiplin14. Dia bangga bila dapat memberikan yang terbaik kepada anaknya. Sehingga ia slalu bekerja keras untuk menyalurkan bakat anaknya supaya sukses di masa depan.
6. Tipe The Competent Mother (Ibu kompeten)
Ibu tipe ini lebih bertanggungjawab, rasional, bepikir jernih, teliti, dan selalu memiliki informasi mutakhir. Mereka menginginkan anaknya dibesarkan dengan baik, bersih, dapat tampil, memiliki kemampuan menganlisa, dan menguasai ketrampila. Pola pendidikan terencna dengan baik tingggal di lingkungan yang sempurna, pendekatan yang sistematis, merasa bangga bila dapat memberikan anaknya permulaan yang baik.
E. Peran Ibu Dalam Prespektif Islam
Islam memandang ibu pada derajat kemanusia yang tinggi. Penghormatan Islam sangat jelas karena kehadiraan manusia di dania ini berkat perantaraannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nahl : 78
Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Al-Qur’an juga menyebutlan dalam surat Az-zumar ayat 6 :

Artinya : “Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan”

Maksud tiga kegelapan itu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim15. Betapa berat seorang ibu mengandung, melahirkan, mengasuh serta mendidik anak-anaknya bahkan digambarkan dalam Al-Qur’an dengan “wahnan ‘ala wahnin (sakit yang begitu berat ketika melahirkan). Gambaran ini dapat dilihat dalam surat Lukman ayat 14:

Artinya : “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu”.

Ketika Nabi Muhammad ditanya oleh para sahabatnya tentang orang yang paling dahulu diberikan kebaktian, Nabi menjawab”Ibu” sampai tiga kali baru kemudian “ayah”. Ini membuktikan bahwa ibu sangat tinggi derajat kedudukannya di hadapan manusia begitu pula dihadapan ajaran Islam
Islam memberikan kedudukan tinggi tersebut seimbang dengan peran dan fungsi ibu dalam kehiduan kemanusiaan. Peran Ibu sebagai hamba Allah secara vertical sama dengan peran dan fungsi manusia yang lain yaitu makhluk yang terbebani oleh “taklifi” Tuhan, sebagaimana firmannya (QS Adz-Dzariat ayat 56) :

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Namun secara horizontal, hablum minannas ibu memiliki peran yang tidak sedikit. Disamping mengabdi kepada suami, mengasuh dan mendidik anak juga peran tugas sosialisasi dengan masyarakat.
1. Tugas terhadap Pasangan Hidup (Suami)
Manusia sebagai makhluk yang berpasang-pasngan akan selalu membina dan berusaha untuk menjalin hubungan yang hormonis. Ini dibuktikan dengan aqad atau ijab-qabul dalam pernikahan. Dengan adanya pernikahan, menurut al-Ghazali sebagaimana yang dikutip oleh Muhammad al-Baqir paling tidak sedikitnya ada lima faedah yang akan diperoleh, yaitu : pertama memperoleh anak, kedua mematahkan (menyalurkan) syahwat, ketiga menghibur diri, keempat menambah anggota keluarga, dan berjuang melawan kecenderungan nafsu (dengan menangani dan kelima mengatasi bermacam keadaan yang timbul karena semua itu)16 .
Isteri sebagai pasangan suami memiliki peran dan tanggungjawab bersama untuk saling menjaga hak dan kewajiban. Salah satu contoh yang digambarkan dalam Al-Qur’an terdapat pada surat An-Nissa 34 :

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.
Suami sebagai kepala rumahtangga mempunyai tanggungjawab untuk memimpin isteri, sedangkan isteri mempunyai tanggungjawab untuk menjaga amanat suaminya ketika tidak ada di rumah. Ayat di atas secara jelas bahwa wanita sholehah adalah wanita yang taat kepada Allah dan memilihara diri ketika suaminya tidak ada.
2. Tugas Mengasuh dan Mendidik Anak
Pada akhirnya sebagai konsekwensi pernikahan akan hadir anggota keluarga baru yang bernama anak. Peran ini merupakan sifat alamiyah seorang ibu ketika sudah memiliki keturunan. Secara alami ibu mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak. Realita ini menempatkan ibu secara kodrati selalu berhubungan dengan anak-anaknya. Maka tidak heran ikatan mosisonal anak dengan ibu lebih besar daripada dengan ayahnya. Al-Qur’an menggambarkan perjuangan ibu ketika melahirkan anak yang berada dalam kandungannya (QS Lukman : 14):


Artinya: “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu”.
3. Tugas, Peran Sosial
Manusia adalah makhluk social. Penanaman nilai-nilai social berawal dari dalam rumah. Ibu yang lebih banyak berinteraksi dengan anak daripada ayahnya memposisikan mereka secara intens untuk mewariskan nilai, norma, dan sstem social. Secara tekstual Al-Quran telah menggariskan bahwa manusia memiliki dua kutub dalam berinteraksi, pertama interaksi dengan Tuhannya (Hablum minallah) dan interaksi dengan manusia (hablum minannaas).

Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu. Karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
Peran social dilakukan untuk mengenalkan keluarga ke masyarakat. Sosialiasi ke tetangga, keluarga suami dan isteri merupakan hal yang melekat dalam diri seorang ibu sehingga akan memberikan ruang di wilayah public untuk lebih berinteraksi dengan masyarakat yang lebih luas.

F. Penutup
Sebagai makhluk yang tertaklifi, seorang wanita juga adalah berperan menjadi “Abdullah”, hamba Tuhan, pengabdian totalitas kepada Allah. Namun sebagai makhluk yang berada di tengah-tengah masyarakat berperan juga sebagai kholifatullah dengan amanat yang dibebankan kepadanya. Amanat agung yang disampaikan kepada setiap manusia untuk bersama-sama memelihara ketentraman bumi
Konsep kholifatullah adalah peran spesialis professional dalam bidang masing-masing. Suami sebagai kepala rumahtangga memiliki hak dan tanggungjawab yang tidak ringan demikian pula seorang isteri dan ibu bagi anak-anaknya merupakan pekerjaan yang harus dilakukan secara special dan professional. Mengabdi kepada suami, mengurus, memelihara serta mendidik anak bukan pekerjaan sambil lalu atau asal-asalan tetapi merupakan pekerjaan yang menuntut keseriausan dan perjuangan uang cukup besar.
Islam sangat mengapresiasi tugas dan peran ibu sehingga Islam memberikan tempat yang sangat istemewa bagi para ibu yang benar-benar berfungsi dan beperan seperti ajaran Tuhan. Ungkapan yang sering terdengar dengan segala keistemwaannya nabi bersabda : “surga berada di bawah telapak kaki ibu” (الجنة تحت من غقدم الامهات).
Konsep Baetie Jannati, rumahku-surgaku adalah symbol keberhasilan ibu dalam memenej kehidupan rumahtangga. Di rumah ada surga karena di rumah itu pula ada seorang ibu tempat bersemeyamnya surga. Kebahagiaan di rumah adalah refleksi kerja keras isteri atau ibu dalam memberikan perannya membangun dan membina anggota keluarganya sehingga mereka merasa mempunyai tugas dan tanggungjawab yang sama untuk mencapai tujuan bersama.

DAFTAR PUSTAKA

Alex Sobur, 2003), Psikologi Umum, Bandung : Pustaka Setia
Becky A. Bailey 2004, Easy to Love, difficult to dicipline Jakarta, Gramadeia Pustaka Utama.
Don Compbell2001, Efek Mozart Bagi Anak-Anak,Gramedia Pustaka Utama,: Jakatrta.
Elizabet B. Hurlock2007, Psikologi perkembangan, edisi kelima, Jakarta ; Erlangga
Hilman Hadikusuma, 1990Hukum Perkawinan Indonesia Menurut : Perundangan, Hukum Adat, Hukum Agama, Bandung, Mandar Maju
John W. Santrok, 2007,Educational Psycology, Prenada Media Group,: Jakarta
Larry J. Koening, 2001, Smart Discipline; Menanamkna disiplin dan Menanamkan Rasa Percaya Diri pada Anak, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama.
Muhammad Al-Baqi, Al-Ghazali : Menyingkap Hakikat Perkawinan Adab, Tata Cara dan Hikmahnya, (Bandung , 1992: Karisma), hlm Ibid., hal. 251
Steve Biddulph, 2001,The Secret Happy Children, ( Gramdeia Pustaka UTama, : Jakarta
Steve Biddulph, 2005, Raising Boys, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama

1 Komentar

  1. racheedus said,

    Januari 21, 2009 pada 5:46 pm

    Arabnya kok nggak masuk coy. Selamat deh atas terbitnya blogmu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: