Pemikiran Pendidikan Dalam Percikan Sejarah

Disusun Oleh : Ibrohim1*

A. PENDAHULUAN

Usaha mengembangkan peradaban di kalangan umat Islam masa lalu, diawali dari usaha-usaha perluasan daerah kekuasaan (futuhat) yang berarti membuka daerah untuk dimasuki kekuasaan Islam. Walaupun demikian ekspansi berpengaruh terhadap pengenalan Islam dalam wilayah yang telah diduduki tersebut. Ekspansi wilayah, dalam hal ini peperangan merupakan realitas sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Ini menunjukan bahwa sejarah umat Islam adalah sejarah politik. Hal ini logis karena prinsip kehidupan masa itu adalah mengemban amanah suci yang menyebarkan kebenaran atau “al-quwat fawq al-haq” (Khaerul Wahidin : 2004, ix).

06062009(004)

Sejarah perkembangan pemikiran yang merupakan cikal bakal munculnya peradaban mengalami pasang surut mengikuti dinamikan perkembangan sejarah umat Islam. Pendidikan yang diartikan sebagai suatu yang mampu merubah kondisi yang lebih baik mengalami perkembangan dan perubahan baik dari segi tujuan, metode, system serta alat untuk mengukur keberhasilan dari proses pendidikan tersebut. Untuk mengetahui perkembangan pendidikan haruslah diruntut menurut “historis” pemikiran yang dikembangkan oleh para pemikir, penggagas, penggerak dan pelaku pendidikan dari masa ke masa. Karena keterbatasan penulis mengenai hal ini, terutama mengenai literature maka pembahasan dalam makalah ini tidaklah berkutat pada masalah runtutan “kesejarahan” secara periodik dari tahun ke tahun tetapi lebih menekankan sisi-sisi perkembangan pemikiran yang pernah terlintas dalam sejarah intelektual terutama bidang pendidikan, khususnya perkembangan pemikiran pendidikan Islam dan lebih khusus lagi dalam perkembangan pemikiran pendidikan tradisional Islam.
B. PENGERTIAN PENDIDIKAN

Menurut Kamus Purwodarminto ( 1984 : 123 ), kata pendidikan merupakan bentukan kata dasar “didik”. Kata didik menjadi kata kerja mendidik memiliki arti memelihara dan memberi latihan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Selanjutnya bila kata didik diberi awalan pe dan akhiran an sehingga menjadi kata pendidikan yang berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dalam usaha mendewasakan melalui upaya pengajaran dan latihan; proses perbuatan, cara mendidik. Ki Hajar Dewantoro ( 1997 : 14 ) mengulas pengertian pendidikan dalam bab tersendiri. Beliau mengatakan bahwa pendidikan pada umumnya berarti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan bathin, karakter), fikiran (intelek), dan tubuh anak “. Hasan Langgulung ( Ramayulis, 2006 : 56 ) meninjau segi kebahasaan bahwa pendidikan berasal dari bahasa Inggris terambil dari kata “education” yang akar katanya berasal dari bahasa Latin “educare” yang berarti memasukan sesuatu. Maksudnya adalah memasukan ilmu melalui kepala sesorang.

Dalam tinjauan khasanah keilmuan Islam, pendidikan berasal dari beberapa kata bahasa Arab diantaranya “tarbiyah” dengan kata kerja “robba”.Istilah lain adalah “ta’lim dan “addaba”. Kata-kata tersebut mengandung implikasi kepada pengertian yang berbeda. Istilah “ta’lim dengan kata kerja “allama” mengandung pengertian kadar memberi tahu atau memberi pengetahuan. Berbeda dengan kata “robba” dan “addaba” yang mengandung makna pembinaan, pimpinan, pemeliharaan dan sebagainya ( Zakiah Daradjat, 1996 : 28-29 ). Ta’lim menurut Al-Attas yang dikutip oleh Hasan Langgulung (1988 : 5) mempunyai makna hanya terpaku pada pengajaran agar mereka mengetahui, jadi lebih sempit dari pendidikan. Sedangkan “tarbiyah” terlalu luas sebab kata ini penggunaannya tidak saja untuk manusia juga digunkan untuk binatang dan tumbuh-tumbuhan dengan pengertian memelihara, membela, beternak dan sebagainya. Dengan demikian istilah pendidikan dalam konteks Islam lebih tepat dengan istilah ‘at-tarbiyah”, ta’lim dan al-riyadloh” Pendidikan biasanya diterjemahkan dengan usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa terhadap peserta didik untuk mengarahkan dan membimbing dan memberikan pengajaran dan didikan serta latihan agar peserta didik berkembang lahir dan batin, jasmani dan rohani menjadi dewasa dalam aspek pengetahuan, hukum, moral, mental, intelektual dan keterampilan serta menjadi dewasa dalam berbagai aspek kehidupannya.

Undang-undang No. 2 Th 1989 tentang sistim pendidikan Nasional disebutkan, bahwa : Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan manusia Indonesia, yaitu beriman dan betaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur berkepribadian mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani . Penulis dapat simpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa untuk mencapai kesempurnaan jasmani dan rohani, atau dengan kata lain pendidikan berarti bimbingan yang dilakukan secara sadar oleh orang dewasa untuk mengarahkan sesuai dangan fitrahnya agar berkembang secara maksimal sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Sedangkan pengertian Pendidikan Islam diuraikan oleh Abd. Rachman Shaleh (1976:13) menyebutkan bahwa Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan dan asuhan terhadap peserta didik agar kelak setelah selesai pendidikan dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai way of life ( jalan kehidupan ). Hal ini menunjukan bahawa pendidikan Islam adalah proses informasi ilmu pengetahuan dan sikap pada peserta didik, yang mempunyai semangat tinggi dalam memahami dan menyadari kehidupannya sehingga terwujud ketaqwaan, budi pekerti yang luhur. Artinya pendidikan Islam itu sebagai usaha yang dilakukan secara sistematis dalam pembentukan siswa supaya hidupnya sesuai dengan tujuan hidup ajaran Islam.

C. CORAK PEMIKIRAN DALAM PENDIDIKAN

Untuk mengklasifikasikan pemikiran tradisional dengan yang tidak cukup sulit, sebab dalam pendidikan ada istilah “reconstruktion end canges”, Artinya yang tradisi akan selalu diakses sebagai tipe awal, kemudian dtambahi dengan modifikasi-modifikasi baru. Sehingga dalam dunia pesantren ada istilah ” menjaga/mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil yang baru, yang lebih baik”: المحافطة علىالقديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح Ideologi pendidikan dalam tinjauan Giroux dan Aronowitz ( Oky Syaeful R. Harahap, 2007 ) menyebutkan ada tiga aliran besar, pertama aliran konservatif, kedua aliran liberal dasn ketiga aliran kritis. Aliran konservatif berpendapat bahwa pendidikan tidak ada hubungannya dengan tatanan dan perubahan social. Pendidikan adalah an sih pendidikan.

Adapun fenomena kebodohon, kemiskinan, tertindas adalah kesalahan mereka sendiri. Aliran liberal (kebebasan individu, pengembangan kemampuan, perlindungan hak) hampir sama dengan aliran konservatif dalam tinjauan social politik bahwa masalah kemasyarakatan dengan masalah sekolah dua hal yang berbeda. Berbeda dengan dua aliran sebelumnya aliran kritis memandang bahwa tujuan pendidikan tidak bisa tidak adalah transformasi social. Saat ini dunia pendidikan terkontaminasi oleh idiologi dominan negara, dunia pendidikan dianggap melanggengkan diskriminatif dan berpihak pada status quo. Ada juga yang berpendapat bahwa gerak laju pemikiran Islam ditandai dengan istilah aliran tradisional, fundamentalis, modern dan neomodern. Perkembangan neomodernis yang diusung oleh Fazlur Rohman lebih menekankan kepada semangat ijtihad yang terus menerus dalam konteks berusaha menemukan pesan-pesan AL-Qur’an. Ciri-ciri neo-modernism Rahman sebagai pencetus awal dari aliran ini adalah :

1). Penafisiran Al-Quran secara sistematik dan komfrehensif,

2). Penggunaan metode hermeneutika yang digunakan untuk memahmi teks-teks kuno seperti kitab suci, sejarah, hukum, falsafah,

3). Pembedaan secara jelas antara Islam Normatif dan Islam Historis,

4). Penggabungan paradigma tradisionalis dan modernisme (Taufiq Adnan Kamal : 1990, 112).

Sedangkan kaum tradisionalis lebih memfokuskan diri dalam pengembagan keilmuan Islam dengan memakai metode “kesejarahan masa lalu” yang bertumpu pada semangat penyebaran Islam.

D. PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM TRADISIONAL

1. Ciri Pendidikan Tradisional.

Istilah tradisional tidak selalu berkonotasi negative apalagi bila berkenaan dengan pola fikir kemanusiaan. Sebab sejarah pemikiran selalu berputar mengikuti “irama” perkembangan dengan sedikit penambahan, pengurangan dan modifikasi. Perubahan ini bukan berarti harus meniti jalan baru tetapi boleh mundur menengok pendapat yang pernah ditinggalkan atau kembali kepada pendapat yang pernah diketahui. Manusia bisa mengambil metede lama untuk mengembangkan hal baru begitulah seterusnya sejarah pemikiran manusia selalu berulang dan selalu diperbaharui ( Abdul Halim Mahmud : 2001, 49 )

Pada awalnya pendidikan Islam tampak sangat tradisional yang berbentuk halaqoh-halaqoh. Apalagi bila meruntut ke belakang mulai dari zaman Nabi diawali dengan pelaksanaan pendidikan di rumah (informal), kutab ( lembga pendidikan yang didirikan dekat masjid, tempat untuk belajar membaca dan menulis Al-Quran ), kemudian pendidikan di masjid dengan membentuk halaqoh-halaqoh ( lingkaran kecil, saling berkumpul dan transfer ilmu ), sallon ( sanggar-sanggar seni ; kemudian berkembang menjadi tepat tukar menukar keilmuan, transfer pengetahuan), dari masjid berubah menjadi madrasah ( Syamsul Nizar : 2007, 109-124 ).

Ciri pendidikan tradisional yang sangat menonjol adalah lebih betumpu perhatiannya terhadap ilmu-ilmu keagamaan semata dengan mengabaikan ilmu-ilmu modern sedangkan sistem pendidikan modern hanya menitik beratkan ilmu-ilmu modern dengan mengabaikan Ilmu-ilmu keagamaan. Proses ini mulai dilakukan di rumah-rumah, kuttab, sallon, masjid dan madrasah ilmu yang diajarkan seputar pengajaran ilmu keagamaan. Dalam konteks Islam “keindonesiaan” mengenal istilah pesantren. Tempat para santri menimba ilmu agama. Perkembangan lembaga-lembaga pendidikan pada masa awal ini tidaklah mengherankan karena para pendahulu ( penyebar agama Islam) ingin berusaha memadukan konteks “keindonesiaan dengan keislman”. Kemudian berkembang menjadi pesantren-pesantren yang ada di Indonesia. Namun seiring kemajuan zaman, modernisasi pendidikan Islam mulai tampak dengan munculnya bentuk-bentuk madrasah, sebagai pengembangan dari system pesantren.

2. Metodologi Pemikiran Pendidikan Islam Tradisional.

Tradisional dipahami dengan sifat konservatif atau mempertahankan yang lama. Ia hanya melihat sejarah masa lalu sebagai inspirasi atau sesuatu yang harus dipertahankan. Akar teologis pemikiran tradisonalis adalah manusia itu harus menerima segala ketentuan dan rencana Tuhan yang telah dibentuk sebelumnya (Qodlo dan Taqdir). Meskipun manusia didorong untuk berusaha namun akhirnya Tuhan jualah yang menentukan hasilnya ( Atang Abd. Hakim & Jaih Mubarok : 2000, 195 ).

Ilmu pengetahuan dalam presfektif Islam berasal dari Tuhan. Jika terdapat perbedaan antara penginderaan (empiris-realis) dengan wahyu, maka pemikir Islam akan lebih mempercayai dan mandahulukan otoritas kebenaran wahyu daripada hasil penginderaan, karena kebenaran wahyu dianggap sebagai kebenaran sejati dan mutlak. Di samping itu, Islam klasik memandang pengetahuan sebagai sesuatu yang utuh (Whole),terpadu (integrated), dan tersintesiskan (synsthesized) sehingga membentuk suatu harmoni. ( Hanun Asrohah : 2007). Pada masa Islam Klasik pendidikan dikelompokkan dalam dua kategori yaitu lembaga formal yang bercirikan eksklusif (sekolah dan universitas) dan lembaga sampingan (informal) (kuttab, masjid rumah ulama dan lain-lain) dengan cirinya bebas (Zuhairini, 1997).

Kedua lembaga ini bersifat Teacher oriented yang memberikan peran yang sangat besar pada guru, termasuk dalam penentuan materi dan pemberian Ijazah. Wajar bila ada siswa memiliki ijazah lebih dari satu baik dalam satu bidang studi maupun berbagai bidang studi. Dengan ijazah ini mereka memiliki hak mengajar orang lain. Dari ijazah yang diperolehnya dapat dijadikan indikasi seberapa kualitas mutu ilmu seorang guru dan dengan siapa ia berguru apakah ia ulama terkenal atau tidak. Kurikulum di lembaga pendidikan Islam masa itu tidak menawarkan berbagai macam bidang studi atau mata pelajaran. Dalam suatu jangka waktu, pengajaran hanya mengajarkan satu mata pelajaran yang harus diselesaikan oleh siswa. Sesudah materi itu selesai, siswa dapat mempelajari materi lain atau materi yang lebih tinggi tingkatannya. Pelaksanaan proses belajar mengajar sepenuhnya tergantung pada guru yang memberikan materi pelajaran (Hanun Asrohah, 1999).

Ada beberapa karekteristik pemikiran pendidikan Islam tradisional yang bisa diungkap dalam konteks sejarah yaitu :

a. Orientasi Pendidikan Adalah Mengemban Missi Suci.

Orientasi pendidikan adalah mengemban tugas suci, menyebarkan agama. Titik tolak ini berkembang dari para sahabat sampai pada penyebar agama Islam awal termasuk di Indonesia. Para Wali (wali sanga) menyebarkan Islam di Indonesia berawal dari panggilan suci, menyampaikan amanat sehingga tujuan akhir yang ingin dicapai adalah mardlotillah, ridlo Allah SWT. Manusia pada satu sisi sebagai hamba Tuhan yang berbanding sejajar dengan makhluk lain – dengan segala bentuk ritualnya masing-masing -, pada sisi lain sebagai puncak ciptaan Tuhan manusia mengusung misi suci berdasarkan visi yang telah digariskan Tuhan sebagai “khalifah” (QS Al-Baqoroh : 30) (Jalaluddin dan Usman Said 1994; 108).

Sebagai khalifah, manusia memiliki kewajiban secara kolektif mewakili tugas-tugas Tuhan, menjaga harmonisasi dan kemakmuran alam. Untuk itu manusia diharapkan dapat mengemban amanat Allah berupa kreasi yang didasarkan atas norma-norma Ilahiyah. Para pendidik awal ini bukanlah sebagai profesi, dimana mendidik adalah pekerjaan yang bisa menghasilkan finansial. Mereka menyampaikan ajaran Islam bukan didasari oleh pekerjaan yang ujungnya adalah materi tetapi lebih kepada panggilan jiwa. Kondisi psikologis merasa bahwa, menyampaikan amanah itu adalah kewajiban. Sehingga muncul dalam bathinnya motivasi-motivasi beraspek unsure-unsur agama yang beroirentasi pada hari akhir dan bernilai ibadah.

b. Melestarikan ajaran Islam.

Islam bisa berkembang dan bertahan karena pemeluknya berupaya untuk melestarikan ajarannya. Salah satu untuk melanggengkan ajaran Islam adalah dengan proses pewarisan ajaran, budaya, adat istiadat masyarakat beragama. Proses ini bisa dijalani melalui pendidikan karena pendidikan itu sendiri merupakan sarana atau wadah dalam rangka proses pentransferan nilai-nilai relegius. Melestarikan ajaran adalah tugas setiap muslim. Tugas yang diemban didasarkan pada panggilan suci untuk mewariskan nilai-nilai relegius pada generasi selanjutnya. Proses pelestarian ajaran Islam ini tidak hanya dilihat dari segi keilmuan saja tetapi juga dari pembentukan etika dan akhlak. Penanaman akhlak adalah suatu hal yang sangat penting dalam pewarisan dan pelestarian ajaran Islam ini. Tidak heran para peserta didik masa tradisional ini sangat santun baik kepada orang tua, lingkungan apalagi kepada para gurunya. Adab, etika sopan santun dijadikan alat untuk menentukan keberhasilan peserta didik.

c. Penguatan Doktrin Tauhid

Setting masyarakat masa itu belum mengenal Islam sehingga penyampaian nilai-nilai agama sangat sederhana. Sosio-kultur masih diwarnai dengan adat-istiadat setempat yang masih (di Indonesia) beragama Hindu, Budha, animisme dan diamisme. Tidak jarang penyebar agama Islam memakai pendekatan “culture approach”. Pendekatan budaya sebagai konsekwensi dari keadaan kultur masyarakat dimana para penyebar Islam awal berdakwah merupakan keniscayaan. Hal ini dilakukan karena pada awal-awal-awal penyebaran agama Islam, masyarakat masih memeluk agama dan kepercayaan setampat. Penguatan doktrin agama dengan menanamkan aqidah-tauhid menjadi garapan pertama di awal-awal pendidikan. Doktrin baru dengan meng”Esakan” Tuhan inilah yang diajarkan Nabi selama belasan tahun di Mekkah. Demikian pula pola dan metode yang dilakukan di Indonesia. Usaha ini sekaligus bertujuan untuk memperkokoh dimensi-dimensi keimanan.

d. Terfakus pada Pendidikan Keilmuan Islam.

Salah satu metode berfikir masyarakat tradisional Islam pada waktu itu adalah bagaimana mengajarkan ilmu-ilmu Islam kepada generasinya. Sehingga di tempat-tempat halaqoh yang diajarkan adalah terfokus pada ilmu-ilmu keislaman. Pendidikan tradisional belum menambahkan ilmu-ilmu yang berdimensi keduniaan. Masih seputar Al-Qur’an, Tarikh, Fikih, ibadah dan ilmu Islam lainnya. Usaha ini dilakukan Karena pada dasarnya umat pada waktu itu hanya ingin mentransfer melestarikan ajaran Islam yang luhur. Pendidikan akhlak sebagai inti dari semua materi keilmuan Islam memainkan peranan yang sangat dominant. Sehingga para peserta didik memiliki ahklak yang bermanfaat terhadap lingkungan baik keluarga, tempat belajar maupun untuk pribadinya sendiri.

Pada masa kejayaan Islam telah pula dikenal tingkatan pendidikan dan tingkatan materi pelajaran bagi para siswa. Adapun mata pelajaran untuk tingkat rendah adalah al-Qur’an dan agama, membaca , menulis dan syair. Dalam berbagai kasus ditambahkan pula pelajaran nahwu, cerita dan berenang. Dalam kasus lain dikhususkan untuk membaca al-Qur’an dan Ushuluddin. Ilmu-ilmu agama memang mendominasi kurikulum di lembaga-lembaga formal, hal ini dimaksudkan agar dapat menjelaskan al-Qur’an secara terperinci makna al-Quran yang berfungsi sebagai fokus pengajaran. Sedangkan bagi anak kalangan istana diutamakan pengajaran kitabah, ilmu sejarah, cerita perang dan cara-cara pergaulan disamping pelajaran utama diatas. (Hanun Asrohah, 1999).

e. Pendidikan Terpusat pada guru

Dalam deskriptif aliraan tradisoanl guru menjadi pusat dalam proses belajar mengajar. Guru sebagai tokoh sentral dalam usaha pentransferan ilmu pengetahuan, sebagai sumber ilmu pengetahuan, serba tahu sehingga gambaran mengenai guru adalah sosok manusia ideal yang selalu berwatak dewasa dan semua tingkah lakunya harus digugu dan ditiru oleh para peserta didiknya. Istilah yang dipakai dalam pendidikan Islam tradisional ini adalah syeikh, ustadz, kyai.

Pandangan masyarakat pendidikan Islam tradisonal guru mempunyai daya kharismatik yang sangat luar biasa. Guru, Kyai, Ustad, Syeikh merupakan orang-orang yang memiliki kredibilitas tinggi dalam masyarakat. Mereka menduduki starta sosial yang diakui dalam masyarakat. Mereka adalah makhluk sosial yang kata-katanya, nasehatnya selalu menjadi panutan apalagi bagi para peserta didiknya. Dalam untaian kalimat bahasa jawa “Guru” berarti “digugu dan ditiru”. Artinya seseorang yang setiap tingkah lakunya selalu mencerminkan kedewasaan yang harus selalu diteladani dan dicontoh. Guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 1994 : 330 ) berarti orang yang pekerjaannya ( mata pencahariannya, profesinya ) mengajar. Guru menurut M. Athiyah Al-Abrasyi ( 1970 : 136 ) adalah Spiritual Father atau Bapak Rohani bagi seorang murid ialah yang memberi santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya, maka menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak kita, menghargakan guru berarti penghargaan terhadap anak-anak kita, dengan guru itulah mereka hidup dan berkembang, sekiranya setiap guru itu menunaikan tugasnya dengan sebaiknya. Guru disebut juga sebagai pendidik. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Sardiman ( 1988 : 135 ) karena : “Guru dalam pekerjaannya ia tidak hanya mengajar seseorang agar tahu beberapa hal, tetapi guru juga melatihkan beberapa keterampilan dan terutama menanamkan sikap mental terhadap peserta didik. Mendidik sikap mental tidak cukup dengan pemberian pengetahuan, tetapi pembentukan mental itu harus melalui proses pendidikan, dengan guru sebagai idolanya. Demikian pula menurut A. Muri Yusuf, guru adalah Individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan”

f. Sistem Pembelajaran.

Sistem belajarnya memakai halaqoh, bekumpul, mengelompk setelah itu maju satu persatu. Sehingga bisa dikatakan bahwa system yang dijalankan dengan memakai dua pendekatan, kelompok dan individual. Dalam istilah pesantren ada sorogan dan bandongan. Sistem sorogan lebih berorientasi pada pendekatan individual, bimbingan pribadi sedangkan system bandongan adalah bimbingan kelompok.

Sistem bandongan ini tidak hanya santri yan tercatat sebagai peserta didik bahkan masyarakat umumpun boleh mengikutinya. Adapun sistem bandongan atau sorogan dapat dijelaskan bahwa metode bandongan adalah metode dimana seorang guru membacakan dan menjelaskan isi sebuah kitab, dikerumuni oleh sejumlah murid yang masing-masing memegang kitab yang serupa, mendengarkan dan mencatat keterangan yang diberikan gurunya berkenaan dengan bahasan yang ada dalam kitab tersebut pada lembaran kitab atau pada kertas catatan yang lain. Sedangkan metode sorogan merupakan metode dimana santri menyodorkan sebuah kitab dihadapan gurunya, kemudian guru memberikan tuntunan bagaimana cara membacanya, menghafalkannya, dan pada jenjang berikutnya bagaimana menterjemahkan serta menafsirkannya.

Dalam sistem pembelajaran tradisional guru dan murid sebetulnya bisa berinteraktif. Murid yang mempunyai masalah bisa betanya kepada guru dengan memakai pendekatan individual maupun kelompok. Pada umumnya rencana pelajaran pada perguruan tinggi Islam di bagi menjadi dua jurusan, Ibnu Khaldun menyebutnya ilmu naqliyah, Yang kedua ialah jurusan ilmu-ilmu hikmah, yaitu filsafat ; Ibn Khaldun menyebutnya ilmu aqliyah : (Ahmad Tafsir 2000 ; 63) Sistem pengajaran di masjid, sering memakai sistem halaqah, yaitu guru membaca dan menerangkan pelajaran sedangkan siswa mempelajari atau mendengar saja, hampir mirip dengan sistem klasikal yang berlaku sekarang. Salah satu sisi baik dari sistem halaqah ialah pelajar-pelajar diminta terlebih dahulu mempelajari sendiri materi-materi yang akan diajarkan oleh gurunya, sehingga seolah-olah pelajar meselaraskan pemahamannya dengan pemahaman gurunya tentang maksud dari teks yang ada dalam sebuah kitab. Sistem ini mendidik palajar belajar secara mandiri.

g. Metode Mengajar

Metode yang sering digunakan dalam proses belajar mengajar adalah metode ceramah. Metode ini paling dominan digunakan dengan diselingi dengan metode imla’, mencatat. Dominannya metode ini disebabkan oleh beberapa hal, pertama perkembangan pendidikan belum semodern sekarang, kedua sarana prasarana masih sangat sederhana, ketiga saat itu metode ini sangat effektif dan efesien, keempat tidak memerlukan waktu untuk persiapan mengajar tergantung kelihaian guru.

Metode ceramah adalah dengan cara penyampaian informasi berupa ilmu pengetahuan melalui penuturan secara lisan oleh pendidik kepada peserta didik. Banyak sekali di dalam Al-Qur’an yang mengemukakan hal ini, diantaranya dalam surat An-Nahl 64 : وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ Artinya : Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ( Moh. Rifa’i, 1991 : 246 )

E. KESIMPILAN

Metode berfikir masyarakat tradisionalis memandang bahwa pendidkian sebagai salah satu bidang kehidupan yang sangat fundamental di samping persoalan hubungan antara manusia dengan Tuhan (vertical). Oleh karena itu proses belajar mengajar dalam menacari ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari agama. Ilmu pengetahuan bersumber dari “Sang Causa Prima” demikian juga agama muaranya akan kepada “Sang Pencipta”atau akan menuju ma’rifatullah, pengetahuan hakiki tentang Tuhan. Pemisahan agama dengan ilmu pengatahuan menyebabkan ilmu dan teknologi kering akan nilai (value free). Sedangkan memisahkan agama dari ilmu pengetahuan akan menemukan agama sebatas coretan-coretan, teks-teks dan nash-nas yang tidak berdimensi “kemaslahatan”.

Ilmu pengetahuan yang tidak dibarengi nilai-nilai moral-agama melahirkan ilmu yang materialistic bahkan ateis. Ini terbukti dengan perkembangan science dan teknologi abad ini yang berdampak pada “dehumanisasi” menjauhkan manusia dari unsur kemanusiaannya, disharmoni, disfungsi, disalokasi, krisis global dan krisis multidimensional. Ilmu pengetahuan bersumber dari Tuhan (Theocentris), dikaji melalui panca indra dan akal. Fikir dan dzikir merupakan keniscayaan dalam memperoleh ilmu pengetahaun. Pengkajian ayat Tuhan baik kitab suci (sacral-transenden) maupun alam semesta (kauniyah-cosmos) dipadukan dengan metodologi yang rasionalis-empiris dan teologis-spritualis. Sehingga pencarian dan penemuannya lebih komprehensif dan menyentuh kebutuhan manusia yang material dan immaterial, terpenuhinya kebutuhan fisik-material dan psikis-spritual.

Ada beberapa kesimpulan dalam makalah ini yang berkaitan dengan metodologi pemikiran pendidikan Islam dalam pemahaman aliran-aliran atau msyarakat tradisional yaitu sebagai berikut :

1. Tenaga pendidik, mereka adalah orang-orang yang tidak meminta imbalan jasa, tidak ada spesifikasi khusus dalam keahlian mengajar, mendidik bukan pekerjaan utama, dan tidak diangkat oleh siapapun. Orientasi mereka adalah mengemban misi suci dan menyampaikan amanah.

2. Mata pelajaran yang diajarkan terutama ilmu-ilmu yang bersumber kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, namun dalam perkembangan berikutnya ada bidang kajian lain, seperti: tafsir, fikih, kalam, bahasa Arab, sastra maupun yang lainnya.

3. Siswa atau peserta didik, mereka adalah orang-orang yang ingin mempelajari Islam, tidak dibatasi oleh usia, dari segala kalangan dan tidak ada perbedaaan.

4. Sistem pengajaran yang dilakukan memakai bentuk halaqah, dengan sistem sorogan dan bandongan ( istilah di pesantren )

5. Metode pengajaran (penyampaian materi) yang paling dominant adalah ceramah dan imla’

6. Pembelajaran terfakus pada guru., Guru atau pendidik menjadi tokoh sentral dalam pendidikan tradisonal.

7. Waktu pendidikan, tidak ada waktu khusus dalam proses pendidikan di masjid, hanya biasanya banyak dilakukan di sore hari atau malam hari, karena waktu tersebut tidak mengganggu kegiiatan sehari-hari dan mereka mempunyai waktu yang cukup luang.

Demikian beberapa point-point pemikiran dalam mengungkap metodologi pemikiran pendidikan Islam dalam presfektif aliran-aliran pendidikan yang berbasis masyarakat tradisional. Walaupun istilahnya tradisional tetapi pola pemikirannya akan selalu dimodifikasi oleh para pemikir kemudian. Ini menunjukan bahwa khasanah intelektual dalam kajian sejarah selalu bersambung dari masa kemasa sehingga menjadi pemikiran yang konprehensif dan integral. Pendidikan Islam modern maupun pendidikan alternative merupakan modifikasi dari sistem-sistem sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai jawaban atas kebutuhan-kebutuhan masyarakat terhadap perkembangan zaman. Disinilah, manusia modern membutuhkan pendidikan sebagai inventasi masa depan yang berorientasi pada kemampuan ( skill ) dalam rangka memenuhi implementai “manusia Ideal” yang berdimensi duniawi dan ukhrawi.

Tercapainya tujuan pendidiakan -insan kamil-tersebut merupakan dambaan seluruh komponen pendidikan yang mencakup tujuan kognitif, affektif dan psikomotor. Sehingga pada ujungnya para peserta didik menjadi manusia yang berguna bagi dirinya, keluarganya dan lingkungannya

4 Komentar

  1. andi said,

    April 1, 2009 at 9:03 pm

    aoooo tukeran link yukkkkk

    salam kenal yaaa

  2. ibrohimnaw said,

    April 27, 2009 at 7:14 pm

    Boleh !!! koq engga ngirim coment-coment lagi…..Kapan Kita kontak-kontal lagi kan udah lama , Link mu mana ???

  3. Ippy said,

    Maret 20, 2011 at 2:17 pm

    Kang boim…kok gak ada tulisan ttg pendidikan dekorasi? harusnya pendidikan islam kita didekorasi juga kang…nuhun

  4. ibrohimnaw said,

    Mei 21, 2011 at 4:02 am

    waaaaah, perlu kajoan khusus tuh…kalimat dekorasi seprti rada menggelitik di telinga….heheeh


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: