MAHABARATHA EPOS PSIKOLOGIS

EPOS BARATAYUDA

Gunungan dalah kelir kehidupan

Gunungan adalah kelir kehidupan

Baratayuda artinya perang antara darah Barata (yuda;perang). Pandawa dan Kurawa sesungguhnya masih segaris keturunan sama-sama berdarah Barata (Nyoman S. Pandit, Mahabharata, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm xi) maksudnya turunan Prabu Sentanu. Baratayuda adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa Perang saudara yang sangat melegenda dalam dunia wayang ini pada akhirnya membinasakan Kurawa. Jika mengingat Pandawa dan Kurawa sebagai lambang baik dan jahat maka sepertinya bisa dimengerti. Perang antara baik dan buruk adalah perang yang abadi dan selalu terjadi. Ketika ada kebaikan maka pastilah ada yang disebut sebagai kejahatan.

Perang ini merupakan klimaks dari kisah Mahabharata, yaitu sebuah wiracarita terkenal dari India. Istilah Baratayuda berasal dari kata Bharatayuddha, yaitu judul sebuah naskah kakawin berbahasa Jawa Kuna yang ditulis pada tahun 1157 oleh Mpu Sedah dan Empu Panuluh atas perintah Maharaja Jayabhaya, raja Kerajaan Kadiri 1135-1157 ( Sunardi DM, Baratayudha, (Jakarta: Balai Pustaka, 1997), hlm. 5)

Ki Dalam Fatamorgana

Dalang Fatmorgana

Dalam satu lakon atau kisah Pandawa ditipu dan dibuang ke dalam hutan oleh Kurawa. Dalam hati manusia, iblis selalu berusaha menjauhkan dan mengusir jauh-jauh kebenaran. Para Pandhawa yang sering menderita, dalam kenyataannya orang yang berdiri di jalan kebenaran seringkali harus menghadapi lebih banyak kerasnya hidup. Pada akhirnya Siapa pun tahu, dalam agama manapun selalu disebutkan bahwa kebenaran akan selalu menuai kemenangan. Hanya saja untuk mencapai kemenangan itu seringkali kita harus melalui banyak cobaan dan kesulitan. Dan tentu saja butuh banyak pengorbanan. Istilah Ki Dalang “Jer basuki mawa bea”

Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda. Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti, Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, sehingga membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu. Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai perebutan Kerajaan Hastina melalui permainan dadu (Nyoman S. Pandit, Mahabharata, 2004, hlm. 121. Semua lakon Mahabarata memiliki alur cerita yang sama walau dengan dengan variasi yang berbeda-beda. Pembagian Parwa telah disebutkan oleh Nyoman S. Pandit, hlm. xix-xx, juga dalam Permadi, Ilmu Kasampurnan; Mengkaji Serat Dewaruci, hlm. 29-30)

Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak-hak para Pandawa. Pelanggaran perjanjian, perselisihan mulai dikobarkan. Jalan damai telah ditempuh dengan mengutus diplomat ulung Betara Kresna namun keegoan sudah menjalar ke seluruh tubuh, nafsu sudah memuncak. Kurawa tidak mau mengemblikan haknya Pandawa. Keputusan inilah yang membuat perang Baratayuda tidak dapat dihindari lagi.

Thomas Stomford Rafless menulis sebuah analisis mengenai perang Baratayuda atau perang suci dan menurut pengamatannya lebih tepat dikatakan  perang kesengsaraan. Sebuah puisi epik dalam bahasa Kawi atau bahasa Jawa Klasik. Rafless menulis bahwa orang jawa tidak sembarangan untuk mementaskan lakon Baratyuda ini sebab bila lakon ini dipentaskan maka akan terjadi bencana atau peperangan. Sebagai contoh pemimpin daerah Kendal berupaya untuk mementaskan Baratayuda dari awal sampai akhir dan segera setelah pertunjukan tersebut selesai daerahnya dihancurkan dan itu juga merupakan awal perang Jawa. (Thomas Stomford Rafless, The Histories of Java, (Yogyakarta: Narasi, 208), hlm. 296. )

Inti perang Baratayuda itu tersimpul dalam ajaran filsafat-relegius Jawa yang sering diungkapkan oleh para Dalang “bejik ketitik ala ketara” dan “sura dira jayadiningrat lebur dening pangastuti” yang bermakna semua kejahatan atau kebatilan akan dihancurkan atau dikalahkan oleh kebaikan (Wawan Susetyo, Bharatayuda; Ajaran Simbolisasi, Filosofi dan Maknanya Bagi Kehidupan Sehari-hari, hlm 5. ) Oleh karena itu dinamakan Baratayudha Jayabinangun, setelah terjadi peperangan maka kejayaan dan kesuksesan akan muncul sebagai konsekwensi dari perjuangan dan pengorbanan.

Kebatilan akan lenyap dan manusia akan memperoleh apa yang mereka telah kerjakan merupakan nilai-nilai relegius dalam lakon ini. Al-Qur’an surat Al-Iraa/17 ayat 81 dan QS Al-Zaljalah ayat 7-8:

ö@è%ur uä!%y` ‘,ysø9$# t,ydy—ur ã@ÏÜ»t6ø9$# 4 ¨bÎ) Ÿ@ÏÜ»t7ø9$# tb%x. $]%qèdy— ÇÑÊÈ

Artinya : “Dan Katakanlah: “Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”.

Artinya :”Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”.

Analisis psikologis terhadap perang Baratayudha ini sungguh amat kompleks karena melibatkan seluruh unsur emosional. Pertarungan antara keharmonisan keluarga dengan konsistensi memegang kebenaran. Gejolak psikologi digambarkan sangat jelas dalam Bagawadghita (Bhagawad Gita merupakan salah satu dari kitab suci Weda yang kelima disamping Rig veda, Sama veda, Yazur Veda dan Athtarwa Veda. Bhagawad Gita sendiri artinya “Nyanyian Dewata” disebut sebagai Pancama Veda (Weda kelima) diterjemahkan oleh G. Pudja MA. Bhagawad Gita (Pancama Veda), (Surabaya: Paramita, 2005), hlm. x-xi)

yang menceritakan kegundahan Arjuna untuk terjun ke medan laga Kurusetra. Bagaimana pun peperangan bertentangan dengan hati nurani, ajaran moral, maupun agama. Konflik psikis dialami sang senopati perang andalan Pandawa ini. Di beberapa bait dituliskan :

“Krpaya parayavisto visidann idam abrovite, Arjuna uvaca: drstvemam sva-janam Krsna yuyutsum samupasthitam…….sidnti mama gatrani mukham ca parisusyati, vepathus ca sarire me,roma-harsas ca jayate…gandivam sramsate hastat,tvak caiva paridahyate, na ca saknomy avasthatum bhramativa ca me manah…”

(Dengan diliputi rasa kasihan, dalam keadaan sedih Arjuna berkata: wahai Kresna dengan menyaksikan orang-orangku sendiri, yang berbaris siap untuk berperang….Anggota tubuh saya menjadi lemas, mulut saya teras kering, sekujur badan saya gemetar dan bulu roma saya berdiri….Busur gondewa terlepas dari tangan saya dan seluruh kulit saya terasa panas membara, saya tak kuasa lagi berdiri dan pikiran saya kacau tak menentu….).(Tulisan Bhagawad Gita berbahasa Sanskerta-India menjadi salah satu kitab umat Hindu. Lihat G. Pudja MA. Bhagawad Gita (Pancama Veda), (Surabaya: Paramita, 2005), hlm. 18-19)

Khresna sebagai teman sejati, kakak dan guru selalu memberi nasehat bahwa konflik pribadi akan selalu muncul pada setiap manusia disebabkan oleh dua hal, pertama sifat lemah, menyerah pada keadaan dan kedua kebodohan, salah paham dan ketidaktahuan akan tujuan atau orientasi hidup. Di bawah bimbingan Kresna, Arjuna memilih untuk menjalankan dharma sebagai satria yang membela kebenaran. Pembelaan kepada kebenaran membutuhkan pengorbanan yang besar salah satunya berseberangan dengan keluarga, berselisih dengan teman, sahabat sehingga pada akhir perjalanan hidupnya menemukan kebahagiaan dengan moksa ke swarga.

Epos Mahabaratha sebenarnya implimentasi kehidupan manusia yang penuh konflik dan intrik. Konflik bathin antara emsosioal dan kebenaran akan selalu berkecamuk dalam diri manusia. Perang Saudara antara Pandawa dan Kurawa menjadi simbol diri untuk menata pada posisi yang proporsional. Akhirnya memang memunculkan pepatash “jer basuki mawa bea”, suro diro lebur dening pangastutiInnal batilaa kanaa zahuqoo...Kebatilan akan sirna dan akan dikalahkan oleh kebenaran.

Konflik bathin yag berada dalam diri akan selalu berkacamuk melanda dada. Kebenaran dan kejahatan selalu bersanding. Kadang sifat kedholiman terus sampai di akhir hayat dengan membawa “syu’ul Khotimah”. Hidup tidak happy ending. Alur kehidupan dipenuhi dengan berbagai wanda (sifat) yang diwakili dengan karakter raut muka wayang beraneka macam. Hal ini menjadi kriteria dalam menapaki kehidupan. Walau hidup ini tidak hitam putih namun perkembangan dan pertumbuhan manusia baik fisik mapun psikis akan dipengaruhi oleh masa lalu. Hingga Akhrnya teks yang Agung berfirman “wal tandzur nafsun maa qodamat lighoddin”. Lihatlah masa lalu dirimu untuk menejalani hidup hari esok…..!!! Insya Allah

About these ads

2 Komentar

  1. ibrohimnaw said,

    Mei 3, 2010 at 4:40 pm

    Maaf tulisan Arabnya belum sempat teredit sempurna…..!!!

  2. ibrohimnaw said,

    Juni 23, 2010 at 6:40 pm

    Mkasih……ini adalah salah satu sisi kehidupan ku yang bersentuhan dengan budaya….Kita memang hidup dengan multi kultur yang berserakan di sekitar kita. Padahl bila digali semuanya memeiliki pesan nilai uiversal yang didapat di semua dimensi ajaran….MAKASIH KEMBALI..dan SALAM KOMPAK juga….!!!, Insya Allah aku kunjungi …


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: