NILAI DAN BUDAYA

NILAI PSIKOLOGIS DALAM WAYANG KULIT
wayang

Para mubaligh-pendidik tanah jawa yang tergabung dalam Dewan Wali Sanga menyebarkan Islam dengan berbagai macam cara dan metode pendekatan. Raden Rahmat atau Sunan Ampel mendirikan pesantren, Sunan Giri menciptakan tembang, Sunan Bonang dengan gamelan, Sunan Kalijaga dengan tanggapan wayang. Sunan Gunungjati, Raden Fatah memakai pendekatan “Polytical approach” sebab mereka adalah seorang raja dan sulthan. Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Kudus mendirikan pesantren “Educational approach” karena mereka ahli dalam bidang agama. Sedangkan Sunan Kalijaga memakai metode pendekatan “Cultural approach” dengan pertunjukan Wayang, Ketoprak, Berokan, Laisan. Artinya Sunan Kalijaga memasuki wilayah budaya Jawa dengan membawa nilai-nilai Islam.
Islam di Indonesia merupakan asimilasi dan akulturasi berbagai macam budaya dan agama baik animisme, dinamisme, hindu, budha maupun aliran kejawen. Islam memasuki budaya dan agama dengan melalui “cultural approach”. Sunan kalijaga yang orang Jawa mampu membaca hal ini sebagai peluang untuk menyampaikan pesan Islam ke dalam kehidupan sehari-hari. Sunan Kalijaga terkenal sebagai panutan atau “guru spritual” orang Jawa (Hasanu Simon, 2003: 281-341). Hal yang dilakukannya mampu memadukan budaya meliputi adat-istiadat, saloka bahasa, kesenian, dolanan dan berbagai kreasi budaya lainnya dengan warna Islam. Salah satu bentuk dari kreasinya adalah dengan memasukan pesan-pesan spritual melalui pertunjukan wayang kulit.
Wayang kulit, baik dari sisi bentuk dan pagelaran sampai saat ini masih bertahan diterpa kemajuan zaman. Hiruk pikuk hiburan modern telah merambah ke seluruh sendi kehidupan. Namun ternyata wayang lulit masih digemari oleh masyarakat Indonesia. Para penonton tidak hanya tertarik pada pertunjukan atau pagelaran wayang serta isi pesan moral yang disampaikan oleh ki dalang semata tetapi interest juga terhadap penokohan, karakter, sifat dan watak tokoh wayang. Bahkan ada juga penggemar wayang yang mengidentikan dirinya dengan tokoh-tokoh wayang tertentu. Keterlibatan emosional penonton ketika melihat pertunjukan wayang apalagi terhadap para tokohnya merupakan proses internalisasi aspek-aspek psikis. Aspek-aspek psikis terjelma dalam idealisme sikap dan perilaku keseharian. Tokoh idola merupkan inspirasi untuk berbicara dan bertindak dalam berinteraksi sosial.
Hal yang sangat menarik perhatian adalah dalam alur lakon dan penokohan karakter pewayangan bergerak secara teratur menuju kepada transfer nilai bahkan ada semacam transformasi unsur pewayangan dalam karakter, kepribadian dan kondisi psikologis para audiensnya. Beberapa tokoh wayang memiliki karakter khusus menjadi anutan, prinsip hidup, sumber pencarian nilai-nilai atau paling tidak mempengaruhi sikap hidup masyarakat penggemar. Banyak juga orang menilai bahwa dunia wayang dipandang sebagai simbol atau bahkan ada unsur kemiripan dengan keadaan dan peristiwa di dunia nyata (Burhan Nurgiyanto, 1998: 264).
Manusia di tengah-tengah pergumulan budaya akan selalu mengerahkan daya fikir, daya imajinatif dalam menciptakan nilai-nilai. Salah satu nilai yang terkandung dalam budaya lokal adalah nilai psikologis yang ditampilkan dalam penokohan wayang. Wayang sebagai simbol lakon, drama kemanusiaan selalu menampilkan perwatakan, karakter, sifat dan sikap. Perwatakan wayang akan memunculkan kesan psikologis yaitu, kesedihan, kegemberiaan, pengorbanan, persaudaraan, pengkhianatan, harga diri, perjuangan, kepahlawanan, watak culas, pemberani, jujur, pembohong, keprihatinan, hidup manja-ketergantungan dan masih banyak lagi nilai-nilai dalam karakter tokoh pewayangan ini. Kumbakarna seorang raksasa ikut bela pati memperjuangkan negaranya, Wibisana membela kearifan dan kebenaran, Bambang Sumantri yang berjuang gigih meniti karir dari seorang anak padepokan kemudian menjadi senapati perang, Subali, Sugriwa dan Anjani menebus kesalahan dengan berpuasa.(Rio Sudibyoprono R., 1991: 37).
Disamping nilai-nilai psikologis tersebut akan nampak pula nilai-nilai relegius sebagai pijakan normative ki Dalang diantaranya kepatuhan-ketaatan, penghambaan-pengabdian, kedurhakaan, pembalasan, hukum karma, ketekunan laku lampah dalam menggapai tujuan hakiki kehidupan. Diantara lakon yang menyampaikan pesan relegius bahkan tasawuf adalah “Dewa Ruci”, (Purwadi, 2007: 45), pengembaraan Bratasena dalam mencari air kehidupan sehingga menemukan makna sejati yang berada dalam dirinya sendiri. Alur lakon yang berkaitan dengan hukum karma-pembalasan diantaranya terbunuhnya Gatotkaca dalam perang Baratayuda disebabkan masa mudanya pernah membunuh pamannya sendiri, Abimanyu mati di medan laga karena sumpah seorang wanita, Resi Bisma perlaya di padang Kurusetra oleh Srikandi disebabkan pernah membunuh seorang putri, Begawan Dorna (maha guru pandawa dan kurawa) meninggal diakibatkan oleh ketersinggungan salah seorang muridnya bernama Bambang Ekalaya yang merasa diberlakukan tidak adil.(Rio Sudibyoprono R., 1991: 35, 124, 224).

1 Komentar

  1. racheedus said,

    Februari 5, 2009 pada 4:39 am

    Kok, tulisannya nggak nambah-nambah nin?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: