ApA Yang AKU PIKIRKAN

KALIMAT BUNGKUS DAN ALIRAN SESAT

Aku teringat ketika masih kecil dulu, kakek buyutku sering mendongeng. Sambil makan ubi rebus ditemani secangkir teh bercerita kepada para “Jama’ah” yang hadir. Uraiannya mengenai hidup, mengenai makna, symbol dan nilai begitu kental di setiap selorohnya. Dengan bahasa medoknya terlontar kata-kata “ urip Menungsa iku kayadene Cokro Manggilingan”, aja grasa-grusu mengko gah teka. Lamon sira pada puasa tirunen kaya Tetalineng Gondewa, Lamon pada sembahyang kayadene ana ning pucukeng panah, mung akeh-akehe manungsa lamon lagi sembahyang kaya wong gempor ngideri jagat” dan seterusnya………Masih banyak kata-kata yang meluncur dari sosok yang tidak sekolah dan mesantren itu.

Puluhan tahun masih terngiang kalimat dan saloka bahasa yang kakek sampaikan. Aku termenung, menerawang ke angkasa lapis tujuh, menyeruak ke tujuh lapis bumi “sapta pertala”. Begitulah rupanya orang zaman dulu menyampaikan pesan !!!. Satu kata kunci yang Aku peroleh yaitu “Kalimat Bungkus”. Orang dulu sering membalut kalimat dengan peribahasa dan symbol. Mungkin ini yang dimaksud Mircea Eliade dalam bukunya Sakral dan Profan bahwa yang sacral akan mengejawantah dalam bentuk profane dengan melalui proses yang bernama hierophany. Ka’bah itu sacral, Al-Kitab itu sacral tetapi bukan Ka’bah dan Al-Kitabnya (mushaf) nya yang sacral, tetapi Yang Sacral meng-hieropany dalam bentuk profane, maka Ka’bah dan Kitab Suci adalah Sacral (Islam menyebutnya “Al-Quds”).

Aliran sesat sesungguhnya satu pemahaman yang berjalan di luar jalur umum yang diperoleh melalui methode tidak ilmiyah dan tidak konsisnten. Aku ambil misalnya aliran “A” , mereka mengakui kitab sucinya Al-Qur’an tetapi disisi lain mengingkari Nabi Muhammad sebagai penerima wahyu dan pembawa syariat. Bahkan mengakui bahwa pendiri alirannya itu menjadi nabi, rasul, malaikiat sekaligus tetapi anehnya masih membawa Al-Qur’n sebagai landasan dasar. Hal ini merupakan ketidakkonsisten dalam metode berfikir. Kelihatan hanya hawa nafsu yang dominan. Kadang sesekali mendokrin kepada pengikutnya melabelkan nama “Ahmad” yang tertulis dalam Al-Qur’an dengan Ahmad-Ahmad lain. Pendomplengan nama, pencatutan nama tetapi itu tidak seberapa yang lebih parah lagi memposisikan “dirinya” sebagai malaikat pembawa wahyu dan yang lebih hebatnya lagi Malaikat Jibril tandatangannya di palsukan.

Kajian psikologi agama mengulas tantang pemahaman, penghayatan dan pemaknaan tingkah laku keberagamaan seseorang. Setiap orang beragama baik orang awam maupun tokoh spritualnya pasti memiliki pengalaman keberagamaan yang dinamakan “Relegion Experience” . Pengalaman keberagamaan ini diperoleh melalalui pengamalan agama (action relegion). Setiap orang yang mengamalkan ajaran agamanya akan mengalami rasa, pengalaman dan petualangan spritual. Ketika manusiabertingkah laku agama maka akan memiliki rasa yang berbeda pada setiap individu. Rasa merupakan kondisi subjektifitas sebagai hasil akumulasi dari seluruh aktifitas psikis. Sehingga rasa keberagamaan pada setiap jenjang perkembangan psikis akan berbeda. Pada fase anak-anak berbeda dengan remaja demikian pula dengan rasa keberagamaan pada masa dewasa. Perkembangan rasa keberagamaan ini “selalu” mengikuti perkembangan psikis dan mental seseorang. Ibarat orang memakan buah mangga maka akan merasakan buah mangga yang berbeda-beda, ada yang merasakan manis telam, manis masam bahkan manis kecut, tergantung kondisi kesehatan fisik maupun kesehatan mentalnya (higiene mental). Demikian pula dengan tingkah laku dan rasa keberagamaan seseoang. Walaupun tingkah lakunya sama namun yang dirasakan dalam dirinya akan tidak sama. Apalagi tingkah laku agama yang berbeda dalam menyikapi fenomena agama maka akan melahirkan rasa yang berbeda pula.

Bila aku renungkan maka urutan tingkah laku beragama muncul dengan istilah “Relegion action – Relegion Experiance – Peak Relegion”………..??????

Aku berpikir apakah ada hubungan antara “bahasa bungkus” dengan “aliran sesat” ??……..pertanyaan ini mengusik dalam benakku. Aku mencoba menerawang dalam gelapnya angan mencari secercah sinar
Tulisan dan jawaban Seterusnya masih sedang dipikirkan……..!!!

1 Komentar

  1. ibrohimnaw said,

    Juli 4, 2010 pada 4:35 am

    itulah yang sedang kita usahakan…Usaha dakwah salah satunya adal membuka tabir yang berada dimasyarakat Jawa yang sudah kental dengan warisan leluhur mereka…yang sebenatnya juga hasil jerih payah para da’i terdahulu…kita mecoba untuk melanjukan semampu yang kita lakukan….semoga ini menjadi bagian dari usaha dakwah….membuka dan membaca (iqra’) trhadap simbol menjadi lebih bermakna…semoga..!! tentunya membadah dengan pisau analisis yang tajam dari sumbernya Al-Quran dan hadits..I hope it.!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: