THEOLOGI ISLAM; KILAS HISTORIS MEMAMAHI AKAR KEIMANAN

Oleh: Ibrohim Nawawi, S. Ag, M.PdI

I.  Pendahuluan

Persoalan Theologi Islam atau ilmu kalam di Indonesia masih sebatas dikaji di Perguruan Tinggi Islam dan juga diberikan di Madrasah Aliyah dengan sedikit pembahasan1. Berbeda dengan kajian-kajian fiqih atau ilmu “syariat” yang berdimensi ibadah sering disampaikan di setiap lembaga pendidikan baik formal maupun informal. Demikian pula di majelis-majelis ta’lim materi ilmu kalam ( bukan ilmu tauhid, usuhuludin ) jarang bahkan tidak pernah disampaikan kepada para jama’ah. Hal ini dikarenakan beberapa hal, pertama persoalan pembahasan ilmu kalam akan menimbulkan penafsiran yang beragam, kedua memerlukan kapasitas penerima dan pemberi materi yang memadai, ketiga ada unsur perdebatan yang berkepanjangan yang melibatkan emosional, keempat dalam forum-forum umum sedikitnya harus dihindari khilafiyah dengan kaidah “Berbicaralah kepada umat manusia sesuai dengan kadar kemampuan akal mereka ( para Audiens)”. 2 Disisi lain ajaran Islam yang universal menyangkut berbagai bidang kehidupan mulai dari persoalan pelik dalam bidang studi Islam ; fiqih, akhlak-tasawuf, Filsafat dan Ilmu kalam, dan kajian kemasyarakatam baik bidang politik, ekonomi, teknologi, sosial, budaya, hidup berbangsa dan bernegara sampai kepada masalah-masalah praktis, masalah rumahtangga, makanan, minuman, lingkungan, kesehatan, kebersihan dan lain sebagainya. Keuniversalan ajaran Islam bisa dilihat juga dari berbagai konsep tentang ibadah yang mencakup konsep ibadah yang mahdhoh ( sepesifik ) beraitan dengan Allah langsung, maupun yang ghoiru mahdhoh ( umum ) yaitu ibadah yang berkaitan erat dengan kehidupan social kemanusiaan. Kalam sebagai ilmu merupakan salah satu aspek yang dikaji dalam studi Islam. Pembahasan Ilmu kalam memerlukan ekstra kehati-hatian karena di dalamnya penuh sekali dengan “pengurasan” energi otak, akal pikiran, sehingga hampir seluruhnya pendekatan yang digunakan adalah pemakaian “Aqliyah” dengan Tuhan serta manusai sebagai obyek kajiannya.

A. Pengertian Kalam ( Ilmu Kalam ) Seolah-olah kalam dipahami sebagai ilmu bahasa dan kata-kata karena memang kalam berasal dari kalimat Arab ” كلام “yang artinya “kata-kata”, percakapan atau kalimat”3. Tetapi sebenarnya “Kalam” bukanlah membahas tentang kata-kata dalam konteks kebahasaan walaupun ada keterkaitannya dengan asal-usul pemberian nama ini. Sebab latar belakang pemberian nama kalam didasarkan kepada sejarah awalnya mengenai pembahasan “kata-kata Tuhan” dan juga “kata-kata manusia”. Karena kata-kata Tuhan, Sabda Tuhan tepatnya kalamullah menjadi pembahasan yang sangat serius di awal-awal kemunculan pemikiran kalam4. Alasan kedua dinamakan “kalam” karena dalam pembahasannya para “mutakalimin” sering menggunakan kata-kata (berdebat) untuk mempertahankan pendapat dan pendiriannya masing-masing. Mereka menggunakan logika (mantiq) yang disampaikan dengan susunan kata-kata yang penuh dengan argumentasi rasional dalam mempertahankan dalil-dalil nash.5 Selanjutnya kalam berkembang menjadi “Theologi” yang sebenarnya istilah theology ini tidaklah sama dengan theology yang dimaksudkan dalam kajian “Kristiani”. H.J Beck dan N.J.G. Kaptein sebagai redaktur INIS mengungkapkan : “We can, for all practical purposes, refer to kalam as “theology” but always with the proviso that this does not cover exactly what Christian scholasticism called by this nama.. The origin and the nature of this difference will become clear from an examination of the genesis of kalam6. ( Sesungguhnya Kami dapat mengatakan/dapat mengartikan bahwa kalam sebagai theology, namun harus dengan syarat, bahwa istilah ini tidak dengan tepat merangkum apa yang dimaksud dengan skolastik Kristen dengan istilah tersebut sumber dan perbedaan ini akan menjadi jelas dengan memeriksa asal-muasal kalam itu).

Ilmu kalam didefinisikan oleh beberapa ilmuwan Islam yang telah dirangkum oleh Al-khendra yaitu bahwa menurut Abu Zahroh Kalam membahas segala macam persoalan sekitar Dzat, nama, sifat Tuhan, serta masalah yang pelik, seperti persoalan qodar, ikhtiar, atau kebebasan kemauan manusia, dan dengan itu terbawalah pembicaraan tentang bermacam-macam golongan filsafat dan agama yang meluas dan mendalam. Menurut Thabathaba’I kalam ialah pencarin kebenaran dengan jalan pemikiran dialektika. Menurut Abu Bakar Aceh kalam ialah pembahasan tentang perbincangan-perbincangan menyangkut soal ketuhanan. Kontowijoyo meng-ungkapkan kalam berarti kajian-kajian keislaman yang memiliki dua model pertama kajian ulang tentang ajaran-ajaran mormatif dalam berbagai karya klasik, kedua cenderung perlunya orientasi pemahaman keagamaan pada realitas kekinian yang empiris.7 Sedangkan Nurcholis Majid menguraikan pengertian ilmu kalam sebagai berikut : Secara harfiah, kata-kata arab kalam, berarti “pembicaraan”. Tetapi istilah, kalam tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika, Maka ciri utama ilmu kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai terjemahan kata dan istilah Yunani “logos” yang juga secara harfiyah berarti “pembicaraan”, tetapi yang dari kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai derivasinya8. Dari proses perdebatan ilmiyah yang dibarengi emosional (apologis) ini lama-lama menjadi terstruktur, tersistematis kemudian menjadi sebuah ilmu tersendiri yang dikenal dengan istilah “ilmu kalam” yang diambil dari pengertian kebahasaan di atas. Sehingga apabila kalam dijadikan sebagai ilmu maka tentunya harus memiliki obyek kajian dan metodologi. Obyek kajian ilmu kalam yang sering dipersolankan adalah (Tuhan, Wahyu, akal, Manusia) sedangkan metodologinya dengan menggunakan dialektika.

B. Sejarah Lahirnya Kalam (Ilmu Kalam)

1. Zaman Awal Islam Sebenarnya pembahasan tentang Tuhan, Dzat yang disembah sudah dimulai semanjak Nabi Muhammad Saw diutus menjadi rosul. Para sahabat banyak bertanya dan berbincang mengenai konsep ketuhanan, baik dengan para sahabat maupun bertanya langsung kepada Nabi. Salah satu contoh dialog antara sahabat dengan Nabi adalah sebagai berikut : حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَارِزًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكِتَابِهِ وَلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ الْآخِرِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ……. 9 Hadits ini sangat mashur dikalangan mutakalimin yang menguraikan mengenai makna “Iman, Islam dan ihsan”. Dalam uraian hadits yang panjang tersebut nabi kedatangan seorang laki-laki yang sebenarnya adalah malaikat Jibril dalam rangka mengajarkan keimanan, keislman dan keihsanan kepada para sahabat. Terjadilah dialog antara Malaikat, Nabi dan dengan para sahabat. Persoalan keimanan, keyakinan kepada Allah dijelaskan secara langsung oleh Nabi dengan bahasa yang sangat sederhana, sistematis dan realilstis. Sehingga para sahabat hanya mengatakan ‘Sami’naa wa atho’naa”. Persoalan keyakinan kepada Allah kemudian dioperasionalkan dengan keislaman dan dimaknai dengan ihsan sebagai nilai tertinggi seorang hamba dalam berkomunikasi dengan sang Kholiq. Sehingga muncul “trilogy Islam” Iman, Islam dan Ihsan. Iman adalah konsep keimanan, Islam adalah pengimplementasian dari iman dengan berbagai “symbol ritual” serta ihsan yang lebih menekankan sikap-sifat, rasa keberagamaan seseorang kepada Kholiqnya. 2. Awal Kejadian dari Peristiwa Fitnatul Kubro.

Bila mengikuti alur pemikiran Ahmad Hanafi dalam “Theologi Islam”, bahwa sebab musabab munculnya ilmu kalam terdiri dari aspek, intern dan ekstern. Penyebab intern karena memang di dalam Islam sendiri (Al-Quran) banyak peluang penafsiran terhadap persoalan ilmu kalam, mengajak kepada tauhid, mempercayai kenabian, kemudian ada semangat mengkaji Al-Qura’n dari umat Islam itu sendiri sehingga muncul persoalan-persoalan baru dalam kajian keimanan yang melibatkan aqal sebagai pemberi alasan. Disamping itu ada pergolakan politik yang bergeser ke persoalan aqidah. Sedangkan penyebab ekstern ditandai dengan pertama, banyaknya pemeluk-pemeluk agama lain yang masuk Islam sehingga terjadi pergesekan pemikiran agama-agama. kedua , berawal dari gerakan dakwah untuk membantah alasan-alasan yang memusuhi Islam maka menggunakan senjata mereka (filsafat) untuk mengimbangi argument-argument keagamaan. Ketiga, para intelektual muslim banyak yang mempelajari filsafat sehingga masuklah unsur filsafat dalam kajian ilmu kalam. 10

Berbeda dengan Ahmad Hanafi, Harun Nasution mengungkapkan bahwa persoalan aqidah dalam Islam sebagai agama pertama-pertama timbul adalah dalam bidang politik dan bukan dalam bidang teologi. Tetapi persoalan-persoalan politik itu segera bergeser dan meningkat dalam bidang-bidang teologi. Dengan kata lain pembahasan teologi itu berasal dari persoalan politik.11 Dalam kajian Harun Nasution, awal kemunculan ilmu kalam bermula dari persoalan pergesekan politik pada waktu itu. Pergesekan politik yang dimaksud adalah ketika terjadi pembunuhan kholifah Usman yang disebut dalam sejarah dengan “Fitnatul Qubro”. Pihak Ustman yang diwakili oleh Muawiyah kerabat dekat Usman bin Affan (waktu itu sudah menjadi gubernur Damaskus) menuntut balas kematian saudaranya. Muawiyah menuntut agar kholifah Ali Bin Abi Tholib menyerahkan pelaku pembunuhan terhadap Ustman Sehingga terjadilah pertempuran ( perstiwa shiffin ).12 Penyelesaian sengketa antara Ali Bin Abi Tholib dan Muawiyah Bin Abi Sofyan dengan jalan arbitrase (tahkim) oleh kaum Khawarij dipandang bertentangan dengan ajaran Islam terutama surat Al-Maidah ayat 44. وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ(44) Artinya: “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.13

Penggunaan term kafir lama-kelamaan menjadi perdebatan yang sangat serius sehingga kemudian bergesar menjadi persoalan siapa yang kafir, kalau kafir berarti murtad dan jika murtad berarti boleh dibunuh dan akhirnya mereka yang kafir, murtad akan masuk neraka. Term kafir, murtad, surga, neraka merupakan istilah yang digunakan dalam agama. Hal ini sudah memasuki wilayah aqidah. Sehingga tidak berlebihan bila Harun Nasution mengatakan bahwa ber-kembangnya “aliran teologi” dalam Islam dimulai dari persoalan dan pergolakan politik.

3. Perkembangan awal Berawal dari perang Shiffin itulah muncul berbagai kelompok (belum menjadi sekte). Kelompok pertama adalah kelompok Ali bin Abi Tholib yang selalu setia mengikuti, membela Ali yang kemudian dinamakan aliran “Syiah”. Kelompok kedua pengikut Ali yang tidak setuju dengan adanya proses “tahkim” sehingga kemudin memisahkan diri dan bahkan dengan kalimat yang ekstrim “keluar” (khoroja) yang terkenal dengan kelompk “Khawarij” . Kelompok ketiga adalah pasukan Muawiyah bin Abi Sofyan sebagai kelompok pemenang dalam politik praktis karena kelompok Ali Bin Abi Tholib kalah dalam proses perundingan, mereka dinamakan “Al-Jami’ah”.

4. Perkembangan Menjadi Isme/Sekte Dari kelompok-kelompok ini berkembang saling memperkuat posisi masing-masing dengan berbagai cara dan strategi. Salah satunya adalah dengan menggunakan “dalil agama”. Agama sebagai kendaraan politik dipakai untuk memberikan dukungan oleh masing-masing kelompok. Sehingga pada masa ini berkembang juga selain penafsiran-penafisran wahyu, muncul juga hadits-hadits maudlu yang intinya upaya penguatan terhadap kelompoknya.

Perkembangan selanjutnya, kelompok-kelompok tersebut berubah menjadi paham. Muncul aliran “Khawarij” yang dipelopori oleh Abdullah Ibn Wahab Al-Rasyidi. Sebagai reaksi timbul aliran “Murjiah” yang dipelopori oleh Ghilan Al-Dimasyqi. Pengikut Ali yang selalu dipojokan dengan persoalan tahkim maka muncul pula pengikut setia bahkan fanatik Ali bin Abi Tholib yaitu kaum “Alawi” atau terkenal denagn “Syiah”. Ketika terjadi gesekan-gesekan ideology persoalan “Ketuhanan” maka tampil Wasil Bin Atho dengan tidak sependapat denagn konsep keputusan diserahkan seluruhnya kepada Tuhan. Maka Wasil keluar dari pengajian Hasan Basri (ahli Hadits) dengan panggilan “Mu’tazilah”. Aliran Qodariyah sebenarnya kelanjutan dari efek penggunaan rasio sebagai alat untuk membedah ideology ketuhanan maka muncul free will dan free act (kebebasan kehendak dan perbuatan). Jabariyah adalah kebalikan dari Qodariyah yang mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kekuatan dalam kehendak dan perbuatan. Hidup manusia itu terpaksa dalam bingkai “Kehendak Tuhan”. Dari pergolakan pemikiran ini maka bermunculanlah tokoh-tokoh pembanding, penganalisis, bahkan penentang dari berbagai paham yang muncul pada waktu itu maka lahirlah tokoh-tokoh seperti Maturidi, Al-Asy-‘Ari yang kemudian membentuk sebuah komunitas faham yang bernama “Ahli Sunnah wal Jama’ah”. Ahlis Sunnah maksudnya golongan yang mengembalikan Sunnah atau tradisi sedangkan “Jama’ah” karena pada waktu itu pemikirannya berada di pihak mayoritas yang terdiri dari masyarakat luas.

C. Pemikiran-Pemikiran Dalam Ilmu Kalam

Berawal dari persoalan siapa yang bersalah dalam proses tahkim di atas maka bermunculanlah beberapa pendapat yang pada akhirnya memasuki wilayah pemikiran-pemikiran dalam bidang keagamaan, politik dan aqidah. Ali bin Abi Tholib, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’Ari bersalah dan berdosa besar Karena telah mengadakan pengkhianatan. Mereka memutuskan untuk membunuh keempat pemuka tersebut karena telah berdosa besar, murtad dan kafir. Pemikiran ini pertama kali dilontarkan oleh golongan yang keluar dari kelompok Ali bin Abi Tholib yang bernama “Khawarij”. Mereka mengkafirkan orang yang melakukan dosa besar ( Muhakimiah ) dengan berlandaskan nash Al-Qur’an Surat An-Nissa ayat 31: إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا(31 ( “Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).” Term kafir juga disandarkan kepada musyrik (polytheisme). Orang-orang yang melakukan dosa besar juga musyrik termasuk zina, membunuh, riba. Mereka kafir bukan Islam. Musyrik itu lebih besar dari dosa kafir. Sebab musyrik tidak bisa diampuni oleh Tuhan (An- nisa 48).

Bagi mereka istilah musyrik tidak hanya sebatas kepada politheisme tetapi ditujukan pula bagi orang yang tidak sepaham dengan mereka. Pemikiran yang ekstrim ini dikemukakan oleh golongan Al-Azariqoh. Golongan Najdah lebih moderat, bahwa mereka yang tidak sepaham bukan musyrik tetapi melakukan dosa kecil tetapi lama-kelamaan bisa menjadi dosa besar. Golongan Sufriyah membagi dosa besar menjadi dua yang hukumannya di dunia seperti zina, membunuh, riba dan dosa dan yang hukumannya di akherat meninggalkan puasa dan sholat. Dikatakan berdosa besar apabila melakukan hal yang kedua. Golongan Ibadiah membagi kafir menjadi dua macam ada kafir bi inkari ni’mat dan kafir al-millah. Golongan terakhir ini sangat moderat sehingga masih bertahan hingga sekarang terdapat di Zanzibar, Afrika Utara, Umman dan Arabia selatan. Sedangkan yang ekstrim dan radikal sudah hilang ditelan sejarah walaupun sisa-sisa pemikirannya masih mempunyai pengaruh (ada beberapa pemikiran-pemikirannya yang diadopsi ) sampai sekarang14

Dalam Segi pemerintahan baik imamah dan khilafah, kaum Khawarij lebih demokratis dalam berpikir. Mereka berpendapat pemimpin harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam dan yang berhak menjadi kholifah bukan hanya suku bangsa Qurasiy saja. Para kholifah terus menjabat selama masih adil, masih menjalankan syariat Islam bila menyimpang maka wajib dijatuhkan bahkan dibunuh. Menurut Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok dengan mengutip pendapat Al-Syahrastani bahwa khawarij pecah menjadi 8 subsekte ; Al-muhakimiyah U’la, Al-Azariqoh,, Al-Najdat, Al-Baihasyiyah, Al-Ajaridah, At-Tsa’alabah, Al-Ibadah dan Al-Syufriyah. Diantara mereka terpecah lagi menjadi subsekte yang lebih kecil. Subsekte-subsekte yang lebih kecil biasanya dinisbatkan kepada pendirinya15

Reaksi dari pemikiran-pemikiran tentang dosa besar, kafir, siapa yang mu’min, surga, neraka muncul golongan yang tidak mau terjebak dalam kafir-mengkafirkan terutama penilaian kepada para sahabat yang terlibat dalam tahkim, mereka berusaha bersikap netral dari segi politik. Kelompok ini antara lain dipelopori oleh Ghilan Al-Dimasyqi. Persoalan kafir, mu’min atau tidaknya seseorang serahkan saja urusannya kepada Allah. Inilah yang mendasari munculnya aliran “Murjiah”, yang berasal dari kata “arja’a” yang artinya menunda atau memberi pengharapan. Mereka lebih mementingkan Iman daripada amal perbuatan, selama mempunyai sahadat mereka tetap menjadi mu’min walaupun melakukan dosa besar. Iman seseorang tidak dapat dirusak oleh dosa yang dilakukannya. Dari segi pemikiran golongan Murjiah dibagi menjadi dua yang ekstrim dan moderat. Yang moderat mengatakan bahwa orang yang berdosa besar bukanlah kafir dan tidak kekal di neraka, disiksa dulu kemudian dimasukan ke surga bahkan ada kemungkinan tidak akan masuk ke neraka sama sekali (dipelopori Hasan ibn Muhammad Ali Ibn abi tholib, Abu Hanifah, Abu Yusuf dan beberapa ahli hadits). Mereka yang ektsrim mengatakan bahwa “perbuatan” tidak mempengaruhi keimanan walaupun secara lahirnya berada dalam kekufuran atau bahkan menyembah berhala sekalipun. Apabila mati, ia tetap iman dan masuk surga.16 Pada akhirnya aliran Murjiah pun mengalami perpecahan. Menurut Imam Syahrastani yang dikutip oleh Atang Abd.Hakim dan Jaih Mubarok kaum Murjiah terpecah menjadi 6 subsekte ; al-Yunusiyah, al-Ubudiyah, Al-Ghasaniyah, al-Tsaubaniyah, At-Tumaniyah, dan al-Sholihiyah.17

Melihat gejolak pemikiran yang bertolakbelakang ini muncullah Wasil bin Atho (lahir di Madinah tahun 700 M), berpendapat bahwa orang yang berdosa besar tidaklah kafir dan tidak pula mu’min tetapi mengambil posisi diantara kafir dan mu’min. Kalau ia mati kemudian bertobat akan masuk surga tapi sebaliknya masuk neraka bila tidak tobat. Washil yang berbeda pendapat ini kemudian mengusung aliran baru yang dinamakan “Mu’tazilah”. Aliran ini terkenal membawa pemikiran yang tersimpul dalam “Ushulul Khomsah” yaitu ; At-Tauhid, Al-Adl, Al-Wa’ad Al-Wai’id, Manjilah bainal Manjilatain dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. 18

Dari kontak pemikiran ini muncul pula faham Qodariyah ( free will, free act), dan faham “Jabariyah” (fatalism). Faham Qodariyah dipelopori oleh Ma’bad al-Juhaeni (w. 80 H) dan Ghilan al-Dimayqi (abad 8 M). Faham Qodariyah mempunyai pemikiran bahwa manusia mempunyai kebebasan (Al-Qudroh) kemauan dan kebebasan perbuatan. Sedangkan faham Jabariyah dipelopori oleh Al-Ja’d Ibn Dirham (abad 8 M) dan Jahm ibn Sofwan (w.131 H). Manusia itu tidak memiliki daya upaya untuk berbuat. Mereka hidup dalam keterpaksaan (Jabariyah) Manusia seperti wayang yang digerakan oleh ki Dalang. Setelah berkembang berpuluh-puluh tahun dan sempat menjadi madzhab resmi dalam dinasti Al-Ma’mun, Mu’tazilah mengalami kemundurun. Menurut Ahmad Hanapi kemunduruan Mu’tazilah disebabkan oleh mereka sendiri. Mereka hendak membela dan memperjuangkan kebebasan berpikir tetapi mereka sendiri memusuhi orang-orang yang tidak mengikuti pendapat-pendapat mereka.20 Puncaknya terjadi tragedy “Mihnah” dan Peristiwa Al-Qur’an”. Orang yang mengakui Al-Quran itu qodim berarti muyrik dan tidak boleh menjadi hakim. Peristiwa ini lah yang menghantarkan Ahmad bin Hambal masuk penjara21.

Sikap Ahmad bin Hambal mendapatkan simpatik dari berbagai pihak. Sehingga muncullah pemikir-pemikir yang mencounter pemikiran Mu’tazilah. Diantaranya adalah Abu Hasan Al-Asy’ari. Pada awalnya Asy-ari adalah seorang Mu’tazily namun memisahkan diri. Sehingga bisa dikatakan al-Asy-ari itu pada dasarnya penghubung dua kekuatan yang tektualist dan rasionalist. Kaum rasionalist yang diwakili Mu’tazilah tidak begitu ketat dalam berpegang terhadap sunnah atau tradisi. Mereka meragukan keorsinilan hadits yang mengandung sunnah dan tradisi sehingga pada saat itu kaum Mu’tazilah sudah menjadi minorits sedangkan yang mayoritas adalah mereka berpegang pada sunnah atau tardisi. Inilah rupanya munculnya “Ahlissunah wal Jama’ah”, yang didukung oleh para ahli hadits, dipelopori oleh Abu Hasan Al-asy-aryi dan Al-Maturidi. Al-Asy’Aryi Karena berlatar belakang Mu’tazilah maka rasionalitas masih melekat dalam setiap produk pemikirannya. Pada awalnya pemikiran-pemikirannya masih belum diterima oleh masyarakat umum tetapi setelah pemerintahan Nizamul Mulk, Perdana Menteri dari Bani Saljuk mendirikan sekolah “Nizamiyah” maka aliran-aliran Asy-Ariyah mulai diajarkan bahkan hanya satu-saatunya yang diajarkan. Mulailah berkembang menjadi aliran resmi negara. Pengikutnya banyak orang-orang yang terkenal yang mendalami filsafat, methafisika antara lain Al-Baqillany, Al-Juwainy, Al-Ghozaly dan As-Sanusi. Para pengembang inilah yang memasyhurkan Al- Asy’Ariyah menjadi aliran kalam yang diterima oleh masyarakat umum.

Sebagai pengcounter Mu’tazilah dan penyeimbang Murjiah maka Al-Asy’ari mengemukakan konsep “Kasab” dan Ikhtiar” dalam perbuatan manusaia. Usaha Al-Asy’ari sebenarnya mengambil jalan tengah terhadap persoalan mengenai kebebasan dalam berbuat atau sebaliknya22. Mereka juga berpendapat bahwa Al-Qur’an itu “Qodim”, manusia bisa melihat Tuhan di akherat, mendahulukan wahyu daripada akal, Allah memiliki sifat (sebagai counter terhadap mujasimiyah, mutasyabihah dan Mu’tazilah)23 Demikian pula gaung yang dilontarkan Al-Maturidi, tidak jauh berbeda dengan Al-Asy’ari mengenai persoalan wahyu dan akal. Kewajiban mengetahui Tuhan bisa dicapai dengan akal karena wahyu memerintahkan untuk itu. Akal juga mampu mengetahui baik dan buruk dan pada hal-hal tertentu wayhu menjadi pembimbing akal. Perbuatan manusia adalah ciptaan Tuhan. Al Maturidi mempertemukan ikhtiar dan qudrat Allah. Tuhan menciptakan daya (kasab) dalam diri manusia dan bebas untuk digunakan Sehingga tidak ada pertentangan antara “Qudrat Tuhan” yang menciptakan perbuatan dengan “Ikhtiar” yang ada pada manusia.24

Tuhan memiliki sifat. Dalam hal ini tidak berbeda dengan Al-Asy’ari. Sifat Tuhan itu melekat pada essensi Dzat Tuhan tetapi Maturidi mengatakan bahwa sifat itu adalah “mulzamah” (ada persamaan ; inhern) dengan Dzat tanpa terpisah. Al-Maturidi berpendapat bahwa manusia bisa melihat Tuhan di akherat dengan kaidah “bila kaefa” sebab akherat itu berbeda dengan dunia. Al-Quran sebagai “kalam” (sabda) yang tersusun dengan kata-kata berbeda denngan “kalam nafsi” ( kalam yang sebenarnya ). Kalam nafsi itu qodim sedangkan kalam yang tersusun kata-kata itu hadits. Orang yang berbuat dosa besar tidak kafir dan tidak kekal dalam neraka walaupun mati belum tobat.

II. Analisis

Aliran ilmu kalam secara kelembagaan di Indonesia tidak muncul sebagai institusi resmi tetapi meresap serta mendalam di setiap keyakinan. Ilmu kalam sebagai ideology berkembang di masyarakat Indonesia walaupun tidak memahami secara ilmu. Dalam budaya jawa (Cirebon, Indramayu) ada ungkapan ” Rumiangkang ing bumi alam, darma wewayangan”. Artinya kehidupan manusia di alam jagat raya ini seperti “wayang” yang hanya digerakan oleh “Ki Dalang”. Ada lagi konsep “nerimo ing pandum”. Hal ini sebenarnya bila ditinjau dari kajian ilmu kalam “diindikasikan” beraliran Jabariyah. Konsep yang berkaitan dengan Qodariyah adalah ungkapan “pakulinan iku taqdir ingkang kapindo” (kebiasaan itu adalah taqdir yang kedua). Artinya taqdir itu bisa diperoleh karena melalui proses “kebiasaan” amal perbuatan manusia.

Munculnya gerakan khawarij gaya baru, neo mu’tazilah, rasionalitas, anti-sectarian, plurasisme agama, liberalism, fundamentalism, menghidupkan kembali tradisi syiah, gerakan-gerakan harakah dan halaqoh yang memiliki ghiroh keagamaaan, semangat menghidupkan tradisi tanpa reserve bahkan generasi yang phobi Islam pun muncul menjadi fenomen Islam Indonesia saat ini. Padahal bila dikaji lebih jauh sebenarnya “bersinggungan” dengan model pemikiran aliran-aliran ilmu kalam. Hal ini tidaklah menjadi persoalan dari segi pemikiran karena semakin memperkaya hasanah intelektual. Namun bisa menjadi masalah manakala terjadi pergesekan ideologi dan kepentingan.

Perguliran pemikiran dan pergerakan (harakoh) di Indonesia sayangnya tidak didukung oleh kesiapan mental masyarakat dalam menerima “perubahan dan perbedaan” Dari persolan ini perlu ada kajian ulang terhadap pendekatan dan metodologi ilmu kalam yang “seolah-olah” ketika mengkaji ilmu kalam yang tergambar adalah perseteruan umat Islam dalam memenangkan pendapatnya masing-masing dengan berdalih bila berijtihad maka mendapatkan dua pahala dan jika salah mendapatkan satu. Prinsip ini dalam tataran praktis sejarah banyak telah mengorbankan darah sebagai “tumbal” idiologis.

Analisis berikutnya dalam setiap kajian studi keilmuan Islam harus dibangun sebuah pendekatan “persamaan”, perlu dibangun semangat “perbedaan itu rahmat”. Sehingga kajian ke”islaman” tidak berkesan menghakimi teori dan pendekatan yang digunakan orang lain. Menarik untuk dikaji ungkapan A. Amin Abdullah, Guru besar bidang “Ushuludin” bahwa dalam kajian intelektual atau akademis sedemikian kokohnya kedudukan ilmu kalam terutama dalam studi-studi keislaman sehingga nyaris terlupakan sisi-sisi histories, bangunan pola pikir, logika, metodologi dan sistematika keilmuan kalam itu sehingga pada akhirnya terlupakan pula agende pengembangannya (bagaimana sejarah perkembangan teori-teori kalam, model atau tipe logika apa yang digunakan oleh penggunanya, factor apa saja yang mendorong menguatnya pengaruh pendekatan kalam), mengapa muncul di permukaan pendekatan tasawuf seolah menjadi “counter” terhadap model pendekatan kalam bahkan belakangan terkesan “diproteksi” oleh berbagai kepentingan social-politik yang selalu mengirinya. 25

Mengkaji Ilmu Kalam bagaikan mengarungi samudra nan luas, diperlukan bekal yang cukup, sampan yang kuat, sauh dan jaring yang lengkap serta nakhoda yang lihai. Otak, akal pikiran (rasionalitas), keimanan qolbu diiringi dengan kemantapan aqidah merupakan perpaduan dalam menangkap sinyal-sinyal Ilahiyah “ayat-ayat Allah” yang dalam Al-Qur’an dengan ungkapan : إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(190) “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” Disamping menyisakan sejarah perseteruan pemikiran yang pada akhirnya mengakibatkan kontak fisik diantara para pengikutnya juga menyisakan peradaban sebagai imbas dari pergolakan, pergumulan dan percaturan dunia politik dibumbui dengan agama. Sehingga muncul emosional keagamaan dan fanatisme agama karena mereka saling apologis dengan pendapat masing-masing.

Memahami sejarah, perkembangan serta pemikiran ilmu kalam akan memperkaya keilmuan. Dengan kekayaan ini semakin memperkuat rasa “Toleransi” dan yang terpenting mampu mengidentifikasi bahkan menganalisa persoalan aqidah kontemporer, tidak mudah mendeskriditkan seseorang dalam term kafir, murtad dan neraka, mampu menganalisa perkembangan pemikiran dan gerakan “Halaqoh ” dan “Harakoh” saat ini dengan munculnya berbagai kelompk dan gerakan yang tidak mau terikat oleh institusi keagamaan formal ( NU, Muhammadiyah, PERSIS dll. )

III. Kesimpulan

Dari beberapa uraian tersebut di atas maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai Kajian terhadap sejarah pemikiran ilmu kalam yaitu sebagai berikut :

1. Aliran Kahawarij Bila dikaji lebih dalam, pemikiran yang dikemukakan oleh kaum khawarij meliputi bidang politik, ideology (theology) dan social, yang kemudian menjadi “Dogma” mereka diantaranya : a. Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh umat Islam. Kholifah tidak harus berasal dari suku bangsa Quraisy. Khlifah bersifat permanent selama bersikap adil dan tidak menyimpang dari syaret Islam. b. Kholifah sebelum Ali adalah sah. Pemerintahan Ustman setelah tahun ke tujuh dan kekholifah Ali setelah terjadi tahkim dianggap telah menyeleweng. Begitu juga Muawiyah, Amr bin Ash serta Abu Musa Al-Asy’ari dianggap telah menyeleweng. Pasukan perang “Jamal” juga dianggap melawan Ali juga kafir. c. Seorang pendosa besar bukan muslim berarti harus dibunuh. Berdosa besar juga apabila tidak berhijrah ke golongannya dan dianggap musyrik dan kafir. d. Adanya Wa’ad dan Wa’id (orang baik “harus” masuk sorga dan orang yang jahat “harus” masuk neraka) e. Memalingkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mutashabihat, Al-Quran adalah Makhluk

2. Aliran Murjiah Pada awalnya Murjiah berupaya untuk bersikap netral dari politik, namun akhirnya terlibat juga dalam persoalan teologi. Diantara beberapa pemikirannya adalah sebagai berikut : a. Penangguhan keputusan kepada Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy’ari dan para sahabat lain hingga Allah SWT memutuskannya di akherat. Kedudukan Ali juga ditangguhkan untuk menempati kholifah yang keempat dalam jajaran Kholifatur Rosyidin. b. Pemberian harapan bagi muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat Allah. c. Meletakan pentingnya iman daripada amal. Sehingga amal tidak merupakan keharusan bagi adanya iman. Sehingga dasar keselamatan adalah iman semata. Setiap maksiat tidak mendatangkan mudhorot apapun. Manusia cukup menjauhi syirik dan mati dalam akidah tauhid.

3. Aliran Syiah Pengikut Ali bin Abi Tholib yang setia memproteksi golongannya dengan argumen-argumen agama terutama yang berkaitan dengan persoalan “imamah”, pengganti setelah rasul, Taqiyah (menyembunyikan keyakinan) dan Mut’ah. Secara garis besarnya pemikran tersebut adalah : a. Mereka menolak kepemimpinan Abu Bakar, Umar, Utsman. Ali lah yang sepantasnya untuk menjadi kholifah. Hal ini dibuktikan dengan “peristiwa Ghadir Khumm”. Nabi telah memilih Ali bahkan tidak hanya menetapkan Ali sebagai penggantinya tetapi juga menjadikan Ali sebagai Nabi itu sendiri. b. Imam harus dari keturuan Ali melalui Ahlul bait. Imam harus ditunjuk berdasarkan nash, Imam harus ma’shum. Meyakini adanya Imam Al-Muntadhor. Imam itu adakalanya tersembunyi (bathin) adakalanya menampakan diri (dzohir). c. Ada pemikiran “nikah mut’ah” (temporer/kontrak), walaupun diantara mereka berbeda penadapat. d. Pemikiran ektrem dari kaum Syiah adalah mengenai Tanasukh (keluarnya roh dari jasad dan mengambi tempat pada jasad yang lain, bad’a (Tuhan mengubah kehendak-Nya, sesuai dengan perubahan ilmu-Nya, memerintahkan suatu kemudian memerintahkan sebaliknya, roj’ah (berkaitan menunggu datangnya Imam Mahdi) dan tasbih (menyerupakan, menyamakan imam mereka dengan Tuhan. Hulul, Tuhan berada pada setiap tempat, Tuhan menjelma dalam diri Imam sehingga Imam harus disembah).

4. Mu’tazilah Aliran ini mempunyai pemikiran yang tertuang dengan nama “UShulul Khomsah” yaitu : a. At-Tauhid (Pengesaan Allah). b. Al-Adl (Keadlian Allah). c. Al-Wa’ad wal wa’iid (janji dan ancaman Allah). d. Al-Manjalah bainal Manjilatain (posisi diantara dua posisi) e. Amat ma’ruf Nahi Mungkar (menyeru kapada kebaikan dan mencegah kemungkaran)

5. Aliran Qodariyah Dalam beberapa hal hampir sama dengan “Mutazilah” teruama mengenai perbuatan manusia. Mereka berpendapat ; a. Manusia mempunyai kekuatan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan Tuhan. Mansia bebas memiih antara berbuat baik dan berbuat jahat. b. Selagi masih hidup manusia mempunyai daya. Semua tingkah laku dilakukan atsa kehendak dirinya sendiri. Ia berkuasa atas segala perbuatannya c. Taqdir adalah ketentuan Allah bagi alam semesta sejak zaman ajali yang istilah Al-Qu’an namanya Sunatullah.

6. Aliran Jabariyah Pemikiran-pemikirannya adalah sebagai brikut : a. Manusia tidak mampu untuk berbuat apa-apa, tidak mempunyai daya, kehendak sendiri dan tidak mempunyai pilihan b. Surga dan neraka tidak kekal, tidak ada yang kekal kecuali Allah c. Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati. d. Kalam adalah makhluk. Tuhan tidak dapat dilihat dengan indera di akherat e. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa dengan makhluk

7. Ahlisuunah wal Jama’ah. Ahli Sunnah wal Jam’ah itu “identik” karena sebagian mengadopsi dengan pemikiran murjiah moderat, Al-Asy’ari dan Maturidi. Mereka berpendapat : a. Mempercayai sifat-sifat Allah. Membedakan antara perbuatan Kholiq dan Kasab. Allah yang mencipatakan perbuatan dan manusia yang mengupayakannya. Hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu termasuk keinginan manusia. b. Mendahulukan wahyu daripada akal. Akal dengan sendirinya hanya bisa mengetahui kebaikan dan keburukan sesuatu. Pengetahuan akal itu bisa diperoleh dengan melaluai wahyu. c. Al-Qur’an itu qodim. d. Allah dapat dilihat di akherat tetapi tidak dapat digambarkan itupun kalau Allah mencipatakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya. e. Mu’min yang berdosa besar itu fasik, iman tidak mungkin hilang selain kufur.

Demikian beberapa kesimpulan pemikiran aliran-aliran ilmu kalam. Saking banyaknya maka banyak hal yang belum tercaver dalam penulisan ini. Mengkaji ilmu kalam sama halnya mengkaji pemikiran manusia, sebab akan selalu berkaitan dengan pesoalan Tuhan, Wahyu, Nabi, Manusia dan Alam. Sehingga kalau dikaitakan dengan ilmu-ilmu kontemporer filsafat maka akan menemukan obyek kajiannya yang hampir bahkan sama yaitu tentang Tuhan, Alam dan Manusia. Orang bijak mengatakan ‘Sejarah masa lalu itu adalah obor masa kini” السلام علي من اتبع الهدى

FOOTNOTE

1.Lihat dalam Depag RI, Aqidah Akhlak, Madrasah Aliyah Kelas I Catur Wulan I, (Jakarta : Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 2000), h. 42-54

2.Kaidah ini diambil dari hadits nabi Muhammad SAW., خاطب الناس بقدر عقولهم , lihat dalam Asmuni Syukur, Dasar-Dasar Strategi Dakwah Islam, (Surabaya : Al-Ikhlas, 1983), hal. 45

3.Husen Al-Habsy, Kamus Al-Kautsar Lengkap, (Bangil : Yayasan Pesantren Islam (YAPPI), 1987 ), hlm. 381. 4.Al-Khendra, Pemikiran Kalam, (Bandung : Alfabeta, 2000), h. 1

5.Harun Nasution, Teologi Islam Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, (Jakarta : UI Press, 1963) , h. ix 6.H.L. Beck dan N,J,G Kaptein ( Redaktur ), Pandangan Barat Terhadap Literatur Hukum, Filosofi, teologi Dan Mistik Tradisi Islam, (Jakarta : INIS, 1988 ), hal. 87

7.Al-Khendra, Op.Cit., h. 2 8.Nurcholis Madjid, Islam Dokrin dan Peradaban, (Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina, 1995), hal. 203-204.

9.Hadits ini sering dijadikan landasan dasar dalam merumuskan rukun Iman, rukun Islam dan Ihsan terutama rumusan yang diformulasikan oleh Ahlussunah wal Jama’ah. Menurut Ahli Sunnah Wal Jamaah rukun Iman ada enam percaya kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab Allah, para rasul, qodlo dan qodar serta iman kepada hari akhir. Rukun Islam ada lima sehadat, sholat, zakat puasa dan haji. Sedankan ihsan adalah konsep akhlak-tasawuf yang bermakna ketika beribadah seolah-olah melihat Allah dan jika tidak bisa maka seolah-seolah Allah melihat kita. Sebaagi perbandingan lihat dalam Ahmad Mudjab Mahalli, Buku Pintal D’ai, (Surabaya : Duta Ilmu, 2003) , hal. 88

10.Ahmad Hanafi,Theology Islam ( Ilmu Kalam ),( Jakarta : Bulan Bintang, 1974), hal. 6-10

11.Harun Nasution, Op., Cit., hal. 1

12.Lihat juga dalam tulisan Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jld II, (Jakarta : UI-Press), hal. 31 13.Moh. Rifa’I Dan Rosihin Abdul Goni Al-Qur’an Dan Terjemahnya, (Semarang : Penerbit CV Wicaksana, 1991), hal. 519 14.Harun Nasution, Theoligi Islam, Op., Cit., hal.,11-21

15.Lebih jelasnya lihat dalam Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, ( Bandung PT Remaja Rosda Karya, 2000), hal. 54

16.Harun nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Op.Cit., hal 35-36.

17.Atang Abd. Hakim., Op Cit., hal 155

18.Harun Nasution., Op. Cit., hal. 39

20.Lihat lebih jelas tentang kemunduran kaum Mu’tazilah ini dalam Ahmad Hanafi, Op., cit., hal. 56-58

21.Harun Nasution, Teologi Islam, Op. Cit., hal. 62-63

22.Jalaludin Rahman, Konsep Perbuatan Manusia Menurut Al-qwur’an ; Syaty Kajian Tafsir Tematik. ( Jakarta : Bulan Bintang , 1992 ), hal. 6

23.Lihat lebih jelasnya mengenai pokok-pokok pemikiran Al-Asy”ari dalam Rosihan Anwar, Ilmu Kalam Untuk IAIN, STAIN PTAIS ( Bandung : Pustaka Setia, 2003, h. 121-124

24.Ibid., hal. 126

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: