HARI JADI INDRAMAYU KE 482

APLIKASI BABAD DERMAYU
DALAM MENOPANG INDRAMAYU REMAJA

Tanggal 7 Oktober bagi masyarakat Indramayu merupakan hari yang sangat bersejarah karena konon pada tanggal 1 Suro 1449 S / 1 muharom 934 H / 7 Oktober 1527 M Raden Arya Wiralodra meresmikan Padukuhan Kali Cimanuk dengan nama paten “Dharma Ayu Nagari”.

09052009(022)

Nama Dharma Ayu diambil dari wanita pujaannya yang “nggebur” (menceburkan diri) ke kali Cimanuk sebagai tanda kalah perang tanding melawan Arya Wiralodra. Untuk kenang-kenangan ke anak cucu maka nama ini diabadikan (dipatenkan; dijamin tidak diklaim oleh tetangga) menjadi sebuah nama baru ” Dharma Ayu” sehingga lama-kelamaan perubahan lisan dari berbagai dialek dan masukan kata asing melahirkan nama “Indramayu”


Tahun 2009 ini kabupaten Indramayu mempunyai format yang berbeda untuk memperingati hari jadinya. Biasanya hanya dilakukan atau dipusatkan di Kabupaten kota dan Pendopo saja namun saat ini pemerintah kabupaten menginstruksikan kepada setiap kecamatan untuk memeriahkan kegiatan yang amat bersejarah ini, tentunya dengan kreatifitas masing-masing.

Kecamatan Cikedung misalnya, kegiatan diawali dengan “Kirab Budaya”, diikuti oleh para Kuwu, anak-anak sekolah dan elemen masyarakat. Malam harinya dilanjutkan dengan pemberian hadiah bagi peserta kirab, musik tradisional serta qasidah ibu-ibu. Sambutan Bupati Indramayu yang dibacakan oleh Camat Cikedung menyampaikan tentang perjuangan dan pembangunan yang masih harus dilanjutkan. Visi dan Missi Indramayu Remaja menjadi gerak langkah Indramayu untuk pembangunan ke depan. Dalam sambutan tersebut disampaikan juga mengenai solideritas kepada saudara-saudara di Sumatera Barat, Padang, Pariaman yang terkena musibah Gempa.

Acara yang mengkhidmatkan ketika Drs. Edi Rosdiana, M.Si membacakan riwayat singkat berdirinya Indramayu. Sambil diikukti gamelan khas Dermayonan, babad Dermayu disampaikan dengan bahasa yang sangat puitis. Acara puncak diisi dengan “Ceramah Budaya” dengan thema Aplikasi Babad Dermayu dalam perspektif Indramayu Remaja. Ceramah dibawakan oleh Al-Ustadz Ibrohim Nawawi, S.Ag,M.PdI, Penyuluh Agama Islam Kandepag Indramayu, alumni program pascasarjana STAIN Cirebon.

Dalam Ceramahnya disampaikan bahwa untuk memahami Islam, seorang muslim tidak hanya mempelajari ajaran, dogma dan teks tetapi juga harus memahami sejarah, tradisi dan Budaya. Di Al-Qur’an banyak ayat yang menceritakan tentang sejarah para Nabi dan Rasul beserta karekteristik umatnya. Ada 25 Nabi dan Rasul diceritakan dalam kitab suci. Cerita sejarah ini menandakan bahwa Allah sudah memberikan pedoman illustratif yang ditawarkan kapada manusia dengan kata lain Tuhan memberikan 25 model, tipe pemimpin. Tidak saja memberikan model, tipe para pemimpinnya namun menggambarkan pula karakter masyarakatnya. Tidak sampai disitu Maha Rahman dan Rahimnya Allah kepada manusia, Allah memberikan pula solusi, pemecahan masalah bagi persoalan masyarakat waktu itu. Allah berfirman “Qad Khalat min qoblikum sunan, fasiruu fiil ardh fandzuruu kaifa kaanaa ‘aqibatul muakdzibiin” (Telah berlalu sebelum kamu tradisi, tingkah laku dan peradaban, berjalanlah di muka bumi dan lihatlah, observasi dan eksplanasilah tradisi mereka dan bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan Allah.)

Ceramah budaya yang menarik ketika mengupas babad Dermayu adegan Arya Wiralodra perang tanding dengan Nyi Endang Dharma. Menurutnya mereka berperang, berkelahi dengan mengeluarkan ilmu (skill) masing-masing. Bila Nyi Endang Dharma menjadi ular Wiralodra menjadi Burung Garuda, menjadi jambu dilawan dengan burung yang mematukinya, menjadi bukit dilawan dengan halilintar. Pendek kata kemampuan ilmu dikerahkan untuk saling mengalahkan. Illustrasi ini mengambarkan bahwa laki-laki dan perempuan saling “ngunduh” ilmu pengetahuan, shering “pangaweruh” sehingga sebetulnya wanita dan laki-laki memiliki kesempatan yang sama untuk “ngunduh” dan mengadu ilmu. Tetapi yang sangat mengagumkan mereka bertarung dengan cinta. Mereka mengadu ilmu pengetahuan disertai dengan rasa kasih asmara sehingga sampailah mereka di bukit Merongge untuk bersama-sama berjanji se-iya sekata, sehidup semati. Mereka menjalin Asmara. Sungguh babad yang mengharubirukan anak cucu.

“Benjing Nyi Endang Dharma ing besuk
Daup kagarwa ing krami
Kalian Ki Wiralodra
Nanging engetana ing weling
Ora kena kacaturna
Iku sekabehing pamali……..”

Hal ini dibuktikan ketika Nyi Endang Dharma “nggebur” di kali Cimanuk, dia mengatakan : Duh gusti Raden, maafkan hamba, perjalanan hamba masih jauh, jangan merisaukan tuan hamba, hamba berpesan jika kelak tuan hamba hendak memberi nama pedukuhan ini sebagai kenang-kenangan kita berdua, namakanlah pedukuhan ini dengan nama hamba.

Raden Arya Wiralodra yang mem”babad”, Nyi Endang Dharma yang menanam. Ki Wiralodra yang membuka, Nyi Endang Dharma yang mengisi. Laki-laki yang memulai perempuan yang melanjutkan, Pria yang “nggelar” wanita yang menduduki. Nampak saling mengisi, saling memuat maka tidak belebihan kalau mereka disebut sebagai Dwi Tunggal  pendiri Dharma Ayu Nagari.

Indramayu Remaja merupakan solusi untuk membawa “nagari” ini menjadi tata tentrem kartaraharja, gemah ripah, repeh, rapih, baldatun wa raabun ghafuur, negeri yang daarussalam.Harapan ini diilhami oleh firman Tuhan: “walau anna ahlal quraa amanuu wataqau lafatahnaa alaihim barakatim minas samawati wal ardh…” (Jika suatu negeri masyarakatnya beriman, bertakwa maka akan dibukakan berkah dari langit dan bumi….). Masyarakat sungguh sangat sadar akan semboyan Relegius, maju, mandiri dan sejahtera. Siapapun pemimpin masa depan bila mendahulukan relegius Insya Allah akan didukung dan diberkati, karena Indramayu adalah masyarakat yang relegius. Harapan kepada generas muda bahwa perjuangan yang telah diberikan oleh Raden Arya Wiralodra harus dilanjutkan oleh generasi sekarang, Alas kali Cimanuk sudah dibabad tinggal mengisi, membangun dan menanam. Pendahulu kita sudah membuka jalan, lalui jalan itu sambil meningglkan bekas, jejak-jejak kehidupan yang mula…..!!! wasssalam

Darma Ayu mulih harja

Tan ana sawiji-wiji

Partelane yen ana taksaka nyabrang

Kali Cimanuk pernahnya

Sumur kejayan dres mili

Dilupak murub tanpa patra

Sedaya pan mukti mali

Somahan lawan prajurit

Rowan kaliyan priyagung

Samiya tentrem atinya

Sedaya harja tumuli

Ing sakehing negara pada raharja (Arya Wiralodra)

Nandura kelawan amal lan karya
Dibarengi kalian Iman, Islam, Ihsan ingkang nyata
Insya Allah Gusti Kang Akarya jagat anata
Angsal kahanan aman lan sentausa
Para pejabate ngelakoni amal ingkanng utama
Masyarakate guyub, rukun lan sejahtera
Indramayu bakal angsal Mulih Harja

(Ki Ageng Malik Ibrohim Nawawi; Padepokan Sabda Pandhita Ratu)

3 Komentar

  1. racheedus said,

    Oktober 7, 2009 pada 4:00 pm

    Kata Supali Kasim di Kompas kemarin, sejarah Indramayu masih kontroversial. Nggak jelas. Gimana tuh?

  2. ibrohimnaw said,

    Oktober 7, 2009 pada 4:23 pm

    Aku setuju dengan Kang Supali Kasim bahwa sejarah Indramayu masih konrtoversial, BAnyak pertanyan yang menggelayut dalam pikiran “kritis”. Babad Dermayu memang karekteristiknya sangat subjektif, sangat sarat dengan muatan politis. Babad memang sangat berbeda dengan sejarah yang memerlukan bukti baik tulisan, prasasti ataupun arkeolog. Perlu direkonstruksi sejarah Indramayu termasuk hari jadi tgl 7 September 1527 M, masih menjadi perdebatan yang sangat sengit di kalangan budayawan dan sejarahwan Indramayu. Selama belum dimansukh maka hari jadi masih tgl 7 Oktober sesuai dengan ketetapan DPRD tgl 24 Juni 1977…..Kita lagi mencari…!!!!!!???? Ok Bro……

  3. ibrohimnaw said,

    Oktober 7, 2009 pada 4:44 pm

    Beberapa pertanyaan kritis muncul:
    1. Siapakah Raden Arya Wiralodra (Telik sandi Demak, atau pasukan serakan Mataram yg kalah perang dgn Portugis,Tujuan mengislamkan Pajajaran, Mengapa tidak ijin ke Cirebon dan seabreg pertanyaan tentang tokoh legenda ini???)
    2. Siapakah Nyi Endang Dharma (dalam babad diidentikan dengan Nyi Mas Gandasari, seorang telik sandi wanita dari Cirebon)
    3. Datangnya Pangeran Guru dari Palmbang(juga diidentikan dengan Arya Dilah; ayahnya raden Husen dan ayah angkat Raden Fatah, kalau iya koq dikubur di Indramayu)
    4. Kuburan Ki Wiralodra sangat berada dlm “Ketersendirian” tanpa diikuti oleh para ki Ageng. (artinya Wiralodra hanya mendirikan Dharma Ayu; sektar Sindang sekarang) sedangkan para Ki aAgeng juga memeiliki kedudukan yg sama dlm teritorial.
    5.Para Ki Ageng seluruh Indramayu rata-rata di kubur di Astana Gunung JAti mengikuti sesembahannya yaitu Cirebon atau sebagai simbol pengakuan kepada Sunan Gunung jati. Wiralodra sendirian ditemani pembantunya yg setia Ki Tinggil


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: