REFLEKSI KEILMUAN

ILMU PENGETAHUAN DALAM

PRESFEKTIF ISLAM

Disusun Oleh : Ibrohim

A. Pendahuluan

Lomba Kreatifitas

Komponen utama ajaran Islam adalah Al-Qur’an dan Al-Hadits yang diejawantahkan dalam bentuk “ilmu” Aqidah, Syari’ah, Akhlak dan Sejarah.Perkataan Ilmu (pengetahuan tentang sesuatu) dalam berbagai bentuk dan variasi kalimatnya disebut sebanyak 845 kali. Karena banyak dan seringnya perkataan itu disebut dalam berbagai hubungan (konteks), dapatlah disimpulkan bahwa kedudukan ilmu sangat penting dan sentral dalam agama Islam.

Dipandang dari akar katanya “ilm” artinya kejelasan, semua ilmu yang disandarkan pada manusia mengandung arti kejelasan. Menurut al-Qur’an ilmu adalah suatu keistimewaan pada manusia yang menyebabkan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain. Ini tercermin, seperti pada kisah Nabi Adam waktu ditanya tentang nama-nama benda, Nabi Adam dapat menyebutkan nama-nama benda yang ditanyakan kepadanya, (Q.S : al-Baqarah : 30-38). Berdasarkan keterangan al-Qur’an tersebut; “sejak diciptakan manusia telah mempunyai potensi berilmu dan mengembangkan ilmunya dengan izin Allah.[1]

B. Kedudukan akal dan wahyu dalam Islam

Sebelum membicarakan akal dan wahyu, ada baiknya kalau dipahami dahulu arti kedudukan yang terdapat dalam subjudul butir ini. Kedudukan berasal dari kata duduk adalah tempat yang diduduki sesuatu dalam pola tertentu. Jika kita berbicara tentang kedudukan akal dan wahyu dalam Islam, yang dimaksud adalah tempat akal dan wahyu dalam sistem agama Islam. Dengan mengetahui kedudukannya, dapat pula diketahui peranannya adalah dua hal (akal dan wahyu) yang tidak mungkin dicerai-pisahkan.

Kata akal yang sudah menjadi kata Indonesia itu berasal dari bahasa Arab yaitu al-‘aql. Artinya “pikiran atau intelek-daya atau proses pikiran yang lebih tinggi berkenaan dengan ilmu pengetahuan. Beberapa arti lain, diantaranya mengikat dan menahan, maka akar katanya adalah ikatan. Al-‘Aql juga mengandung arti mengerti, memahami dan berpikir”.[2] Para ahli filsafat dan ahli ilmu kalam mengartikan akal sebagai daya (kekuatan, tenaga) untuk memperoleh pengetahuan, daya yang membuat sesorang dapat membedakan antara dirinya dengan orang lain, daya untuk mengabstrakkan (menjadikan tidak berwujud) benda-benda yang ditangkap oleh panca indra.[3]

Kedudukan akal dalam Islam, seperti telah dibicarakan, menampung aqidah, syari’ah, akhlak, dan sejarah. Kita tidak pernah dapat memahami Islam tanpa mempergunakan akal. Dan dengan mempergunakan akalnya secara baik dan benar, sesuai dengan petunjuk Allah. Manusia merasa selalu terikat dan dengan sukarela, mengikat dirinya pada Allah. Manusia dapat berbuat, memahami dan mewujudkan sesuatu dengan mempergunakan akalnya. Karena posisinya demikian, dapatlah dipahami kalau dalam ajaran Islam ada ungkapan yang menyatakan  akal adalah kehidupan, hilang akal berarti kematian.[4] Namun, bagaimanapun kedudukan dan peranan akal dalam ajaran Islam, tidak boleh bergerak dan berjalan tanpa bimbingan wahyu. Wahyu itu yang membetulkan akal dalam gerak-geriknya kalau menjurus ke jalan yang nyata-nyata salah karena berbagai pengaruh. Karena itulah Allah menurunkan petunjukkan dalam bentuk wahyu.

Wahyu berasal dari bahasa Arab dari kata “al-wahy”, artinya suara, api dan kecepatan, disamping itu wahyu juga mengandung makna bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Selanjutnya al-wahy mengandung arti pemberitahuan secara tersembunyi dan dengan cepat. Namun dari sekian banyak arti tersebut, wahyu lebih dikenal dalam arti “apa yang disampaikan Allah kepada para nabi.” Dengan demikian, kata wahyu terkandung arti penyampaian firman Allah kepada orang pilihan-Nya agar diteruskan kepada ummat manusia untuk dijadikan pegangan hidup. Firman Allah mengandung ajaran, petunjuk dan pedoman yang diperlukan umat manusia dalam perjalanan hidupnya baik di dunia maupun di akhirat nanti. Dalam Islam wahyu atu Firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, semuanya tersimpan dengan baik dalam al-Qur’an. Wahyu yang disampaikan maliakat Jibril kepada Rasulullah, menurut Sayyid Husein Nasr seperti dikutip oleh Harun Nasution;  “baik jiwa maupun kata-katanya, baik isi maupun bentuknya” adalah suci dan diwahyukan, kebenaranya mutlak (absolut). Kalau susunan dan kata-katanya diganti, itu bukan wahyu lagi, tetapi olahan atau penafsiran manusia tentang al-Qur’an. Penafsiran al-Qur’an, seperti telah ditegaskan, bukanlah al-Qur’an, bukanlah wahyu, tetapi hasil ijtihad atau pemikiran manusia.[5]

Dengan demikian kedudukan akal dan wahyu dalam ajaran Islam, keduanya merupakan sokoguru ajaran Islam. Namun, segera ditegaskan bahwa dalam sistem, wahyulah yang pertama dan utama, sedang akal adalah yang kedua. Wahyu baik yang langsung yang kini dapat kita baca dalam kitab suci al-Qur’an maupun yang tidak langsung melalui sunnah Rasulullah yang kini dapat kita baca dalam kitab-kitab hadits yang sahih, yang memberi tuntunan, arah dan bimbingan pada akal manusia. Oleh karena itu akal manusia harus dimanfaatkan dan dikembangkan secara baik dan benar untuk memahami wahyu dan berjalan sepanjang garis-garis yang telah ditetapkan Allah dalam wahyu-Nya.

C. Ilmu dalam al-Qur’an

Menurut al-Qur’an, seperti yang telah di isyaratkan dalam wahyu pertama secara kategorisasi ilmu dibagi dua : Pertama, adalah ilmu yang diperoleh tanpa upaya langsung dari manusia, dasarnya ada di ujung surat al-Kahfi yang terjemahannya : “Lalu mereka bertemu dengan hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah kami anugerahkan kepadanya (sesuatu) dari sisi Kami, dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” Ilmu ini disebut ilmu ilahi. Kedua,  Ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamia ‘ilmu kasbi atau ilmu insani. Pembagian ilmu ke dalam dua golongan ini dilakukan karena menurut al-Qur’an terdapat hal-hal yang ‘ada’ tetapi tidak diketahui manusia. Disamping itu ada pula wujud yang tidak tampak, karena itu tidak diketahui manusia sebagaimana diulang-ulang ditegaskan al-Qur’an antara lain dalam firman-Nya pada surat al-Haqqah ayat 38-39, yang artinya lebih kurang : Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” Dari kalimat terakhir ini jelas bahwa obyek ilmu ada dua : materi dan non-materi, fenomena dan non-fenomena, bahkan ada juga wujud yang jangankan dilihat, diketahui manusia pun tidak. “Dia (Allah) menciptakan apa yang tidak kamu ketahui”, (an-Nahl : 8). Kedua ilmu ini menyatu dalam rangkaian paradigma ilmu Islam yaitu ilmu ilahi menuntun ilmu insani, dengan demikian pula dipahami bahwa ilmu manusia sangat terbatas, dan ini ditegaskan Allah dalam firman-Nya : “Kamu tidak diberikan ilmu (pengetahuan) kecuali sedikit” (al-Isra’ : 85). Walaupun ilmu yang diberikan Allah kepada manusia amat sedikit, namun manusia harus memanfaatkan ilmu yang diberikan Allah tersebut untuk kemaslahatan manusia. Menurut al-Qur’an, ilmu dicari karena Allah untuk kepentingan manusia, maka semboyan sekuler yang menyatakan “ilmu untuk ilmu” tidak tepat dalam Islam. Yang dibenarkan adalah “ilmu sarat nilai”, oleh  karena itu ilmuan Islam harus menambahkan nilai rabbani (nilai Ilahiah) pada ilmu pengetahuan.[6]

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ilmu pengetahuan adalah gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab-akibat, dan teknologi adalah kemampuan tehnik berlandaskan proses teknis. Dari rumusan ini dapatlah dikatakan bahwa teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan hidup manusia. Dengan demikian, maka mesin atau alat lainnya yang dipergunakan manusia bukanlah teknologi, walaupun secara umum alat-alat tersebut sering diasosiasikan sebagai teknologi. Mesin telah dipergunakan manusia sejak berabad yang lalu, namun abad tersebut tidak dinamakan era teknologi.

Menelusuri pandangan al-qur’an tentang teknologi, mengundang kita untuk melihat sekian banyak ayat yang berbicara tentang alam semesta. Menurut para ahli terdapat sekitar 750 ayat al-Qur’an yang berbicara tentang alam materi dan fenomenanya yang memerintahkan manusia untuk mengetahui dan memanfaatkan alam. Secara tegas dan berulang-ulang al-Qur’an menyatakan bahwa lam semesta diciptakan dan ditundukan bagi manusia, seperti yang disebutkan pada awal surat al-Jatsiyah : 13, yang artinya : “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya dari-Nya …..”. Penundukan tersebut, secara potensial terlaksana melalui sunnahtullah dan kemampuan yang dianugrahkan-Nya kepada manusia. Al-Qur’an menyebutkan sifat dan cirri-ciri alam semesta, ditambahkan lagi antara lain : (1). Segala sesuatu di alam semesta mempunyai sifat, cirri dan hukum yang di dalam al-Qur’an surat ar-Ra’d ; ayat 8 disebut ukuran. (2). Semua yang ada dalam alam semesta tunduk kepada-Nya. “hannya kepada Allah-lah tunduk segala (yang ada) di langit (yang ada) di bumi baik secara suka rela maupun karena terpaksa ……..,”(ar-Ra’d : 15). (3).  Benda-benda alam, apalagi yang tidak bernyawa, tidak diberi kemampuan untuk memilih, sepenuhnya tunduk kepada Allah melalui hukum-hukum-Nya, dalam surat al-Fussilat  ayat 11, yang artinya : “Kemudian, Dia menuju penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap. Lalu Dia berkata padanya dan kepada bumi ; “Datanglah, tunduklah kamu berdua kepada perintah-Ku dengan sukarela ataupun terpaksa.” Keduanya langit dan bumi berkata : “kami datang dengan sukarela”.”

Disamping karakteristi alam, manusia diberi kemampuan untuk mengetahui karakteristik alam semesta tersebut, sebagaimana dinformasikan oleh firman-Nya dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 31, yang artinya : Allah mengajarkan kepada Adam nama-nama  semuanya.” Yang dimaksud dengan nama-nama pada ayat tersebut adalah karakteristik alam semesta sebagaimana telah dikemukakan. Dengan itu manusia berpotensi mengetahui rahasia alam semesta, adanya potensi dan tersedianya lahan dan bahan ciptaan Allah serta ketidak mampuan alam membangkang terhadap sunnahtullah, memungkinkan manusia menguasai alam semesta ini, dengan itu pula memanfaatkan alam semesta yang telah diperuntukkan kepada manusia. Keberhasilan manusia memanfaatkan alam semesta merupakan buah ilmu pengetahuan dengan bantuan teknologi.

Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Jangankan manusia biasa, Nabi Muhammad pun sebagai Rasulullah diperintahkan selalu berusaha dan berdo’a agar pengetahuannya bertambah. Do’anya telah dirumuskan Allah sendiri di ujung surat Taha ayat 114, yang berbunyi : “Rabbi zidni ilman” (Tuhanku tambahkanlah ilmu pengetahuanku).  Do’a ini perlu diucapkan, dimohonkan kepada Allah agar ilmu kita ditambahkan-Nya, sebab Dilah sumber segala ilmu : … “Di atas orang yang mempunyai ilmu pengetahuan ada Allah yang Maha Mengetahui,” demikian arti ujung ayat 76 surat Yusuf. Disamping itu perlu diketahui bahwa manusia memiliki naluri haus ilmu pengetahuan, “Ada dua keinginan yang tidak pernah terpuaskan yaitu keinginan menuntut ilmu dan keinginan memperoleh harta”.[7]

D. Karakteristik Ilmu dalam Islam

Akal menghasilkan ilmu, dan telah terbukti ilmu berkembang masa keemasan sejarah Islam, supaya dapat dipelajari dengan baik dan benar, ilmu perlu diklasifikasi. Klasifikasi ilmu, merupakan sala satu kunci untuk memahami tradisi inelektual Islam. Sejak al-Kindi di abad ketiga H/kesembilan M sehingga Syah Waliullah dari Delhi pad abad kedua belas H/ kedelapan belas M, generasi demi generasi sarjana muslim telah mencurahkan pikiran dan kemampuannya untuk membuat klasifikasi ilmu itu asli dan berpengaruh besar, tetapi sebagian lagi hannyalah pengulangan klasifikasi sebelumnya yang kemudian dilupakan orang. Klasifikasi ilmu yang dibuat oleh al-Farabi (258/870-339/950), al-Gazali (450/1058-505/1111), dan Qutubuddin al-Syirazi (634/1256-710/1311), dikemukakan dalam makalah ini karena beberapa pertimbangan; Pertama, karena mereka adalah pendiri atau wakil terkemuka aliran intelektual utama dalam Islam. Kedua, karena mereka masing-masing tumbuh dan berkembang dalam periode-periode penting sejarah Islam, al-Farabi, misalnya mewakili periode saat kegiatan intensif studi ilmu-ilmu kefilsafatan diawali, termasuk studi matematika dan ilmu-ilmu kealaman. Al-Gazali hidup dua abadkemudian setelah al-Farabi, berda dalam suatu periode yang ditandai oleh ketegangan antar filsafat dan ilmu kalam, politik dan keagamaan, antara Sunni dan Syi’ah, spritual sufi dan fukaha. Gazali memainkan peranan penting dalam meredeakan sebagian ketegangan-ketegangan itu. Qutubuddin lahir ke dalam gelanggang kecendikiawanan Islam dua abad setelah al-Gazali. Beliau mewakili satu di antara periode-periode yang penuh tantangan dalam sejarah Islam (kejatuhan Bagdad, dan runtuhnya berbagai pusat kecendikiawanan dan keagamaan Islam di kawasan timur tengah ke tangan bangsa Mongol). Tidak lama setelah peristiwa tragis itu, muncul perkembangan baru ilmu-ilmu berdasarkan pemikiran filsafat yang dipelopori oleh Qutubuddin dan gurunya Nasiruddin Tusi.[8]

Berikut kita uraikan klasifikasi ilmu yang telah dibuat oleh ketiga tokoh tersebut, peminat yang ingin mendalami klasifikasi ilmu ini, sebagai titik tolok, dapat membanya dalam buku Calsification of Knaowledge in Islam karya Osman Bakar, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Hirarki Ilmu, membangun kerangka-pikir Islamisasi Ilmu menurut al-Farabi, al-Gazali dan Quthb al-Din al-Syirazi, 300 halaman, (1997). : Petama, Menurut al-Farabi, klasifikasi dan rincian ilmu adalah sebagai berikut : (1). Ilmu Bahasa, yang dirinci menjadi tujuh bagian. (2). Logika, dibagi menjadi delapan bagian. (3). Ilmu-ilmu matematis, dibagi ke dalam tujuh bagian. (4). Metafisika, dibagi menjadi tiga bagian. (5). Ilmu politik, dibagi menjadi dua bagian. (6). Ilmu fikih, dibagi  menjadi dua bagian. (7). Ilmu kalam, dibagi menjadi dua bagian. Karakteristik klasifikasi ilmu menurut al-Farabi itu adalah : Pertama, dimaksudkan sebagai petunjuk umum ke arah berbagai ilmu, sehingga para pengkaji dapat memilih subyek-subyek yang benar-benar membawa manfaat bagi dirinya. Kedua, klasifikasi tersebut memungkinkan seseorang belajar tentang hierarki (urutan tingkatan) ilmu. Ketiga, berbagai bagian dan sub bagiannya memberikan sarana yang bermanfaat dalam menentukan sejauhmana spesialisasi dapat ditentukan secara benar. Keempat, klasifikasi itu mengimformasikan kepada para pengkaji tentang apa yang seharusnya dipelajari sebelum seseorang dapat mengklaim diri ahli dalam suatu ilmu tertntu[9] Kedua, Dalam berbagai karyanya, al-Gazali menyebutkan empat klasifikasi yaitu : (1). ilmu-ilmu teoritis dan praktis. (2). ilmu yang dihadirkan dan ilmu yang dicapai. (3). ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu intelektual. (4). ilmu fardu’ain dan ilmu kifayah.Ketiga, Qutubuddin al-Syirazi menyajikan klasifikasi ilmu sebagai berikut : (1) Ilmu filosofis yang dibaginya menjadi ilmu teoritis dan praktis, masing-masing dipecahnya menjadi beberapa butir . (2). Ilmu-ilmu nonfilosofis, ilmu-ilmu ini diistilahkannya sebagai ilmu-ilmu religius, jika didasarkan atas atau termasuk dalam ajaran-ajaran wahyu. Jika sebaliknya, ilmu-ilmu religius dapat diklasifikasi menurut dua cara yang berbeda: a. ilmu-ilmu naqli dan ilmu-ilmu intelektual. b. klasifikasi ilmu tentang pokok-pokok (ushul) dan ilmu-ilmu tentang cabang-cabang  (furu’).

Klasifikasi ilmu menurut ketiga ahli sangat berpengaruh sampai hari ini. Di Indonesia kita sering mendengar klasifikasi ilmu dengan : ilmu agama dengan ilmu umum. Dikotomi ini sudah selayaknya ditinggalkan, sebagaimana hasil Konfrensi Pendidikan se Dunia di Mekkah1977, menggolongkan ilmu ilmu agama dengan ilmu penalaran, namun keduanya tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang dikotomis tapi satu, karena pada hakikatnya semua ilmu berasal dari sang pencipta alam. Jadi dapatlah kita kita kategorikan yaitu ilmu abadi (ilmu yang berasal dari Allah) menjadi dasar atau asas ilmu yang berasal dari ijtihad manusia dengan ilmu pencapaian, penalaran, intelektual : insani.

E. Keharusan mencari ilmu

Dalam kalsifikasi ilmu pengetahuan menurut Iman Gazali menyebutkan ada ilmu fardu ‘ain dan ilmu fardu kifayah. Pengistilahan fardu’ain merujuk pada kewajiban agama yang mengikat setiap muslim dan muslimah. Ilmu fardu’ain adalah ilmu yang wajib dituntut, dicari dan diamalkan oleh setiap muslim. Istilah fardu kifayah merujuk pada hal-hal yang merupakan perintah ilahi yang mengikat muslim dan muslimat sebagi satu kesatuan, tidak mengikat setaip anggota komunitas.

Berdasarkan pendapat Imam Gazali dan beberapa hadits, maka menuntut ilmu merupakan kewajiban manusia, laki maupun perempuan, tua dan muda, orang dewasa dan anak-anak menurut cara yang sesuai dengan keadaan, bakat dan kemampuan. Bahwa menuntut atau mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah dasarnya baik dalam al-Qur’an maupun di dalam hadits.

Di dalam al-Quran terdapat sebuah drama kosmis yang memgambarkan bahwa pada awal penugasan manusia sebagai kholifah di bumi, Allah mengajarkan kepada Adam semua nama-nama benda. Adam adalah simbol mewakili manusia, sedangkan “nama-nama benda” adalah unsur pengetahuan, baik duniawi maupun bukan duniawi. Tatkala Allah bertanya kepada para malikat mengenai nama-nama benda yang telah diketahui Adam dan ia mampu menyebutnya, para malaikat mengaku bahwa mereka tidak tahu nama-nama benda itu, karena dengan jujur malaikat mengatajan bahwa mereka hannya mengetahui apa yang telah diajarkan Allah kepada mereka. Menurut C.A Qadir, bahwa pengetahuanlah yang memberikan keunggulan kepada Adam yaitu pengetahuan tentang benda-benda yang merupakan unsure pengetahuan, seperti dikatakan al-Qur’an, bukan kepatuhan atau kesalehan seperti yang lazim dipahami orang awam.[10]

Wahyu yang pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad adalah kalimat : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu …”, perintah ini mewajibkan orang membaca, artinya membaca semua ciptaan Allah, termasuk al-Qur’an di dalamnya. Ini berarti bahwa pengetahuan harus dicari dan diperoleh karena Allah, ini bermakna pula bahwa wawasan tentang Ketuhanan Yang Maha Esa yang memberikan dasar hakiki bagi pengetahuan, harus menyertai proses pendidikan dalam semua tahap. Artinya Allah tidak saja berada pada awal pengetahuan, tetapi juga pada akhirnya, menyertai dan memberkati keseluruhan proses belajar mengajar. Dalam proses ini, wawasan Ketuhanan tidak bisa dilepaskan, oleh karena Allah dan sifat-sifat-Nya disampaikan kepada kita melalui al-Qur’an, dan kita mengetahui tentang Allah melalui apa yang diwahyukan-Nya dalam al-Qur’an, maka dapat dikatakan bahwa sifat-sifat Allah seperti yang disebutkan dalam kitab suci itu merupakan sumber otentik pengetahuan kita tentang Allah. Salah satu sifat Allah yang disebut dalam al-Qur’an adalah ‘Alim, yang berarti “Yang Memiliki Pengetahuan”. Oleh karena itu pula memiliki pengetahuan merupakan sifat ilahi dan mencari pengatahuan merupakan kewajiban bagi setiap orang beriman. Dan , apa bila orang-orang yang beriman diwajibkan mewujudkan sifat-sifat Allah dalam dirinya mereka sendiri, seperti dikatan oleh sebuah hadits, maka adalah menjadi kewajiban setiap orang beriman kepada Allah yang menjadi sumber segala sesuatu, mencari dan menyerap dalam diri mereka sebanyak mungkin sifat-sifat Allah, termasuk Pengetahuan, sehingga wawasan Keilahian menjadi darah daging kehidupan manusia. Melalui pengatahuan kita dapat mencapai kebenaran, dan kebenaran “al-Haq” adalah nama lain dari Yang Nyata dan Yang Hakiki (Allah).[11]

Karena pentingnya Imu, al-Qur’an menyebutkan perbedaan yang jelas antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu, menurut al-Qur’an hanya orang-orang yang berakal – yang berilmu- yang dapat menerima pelajaran (Q.S. 39. 9). Dan hannya orang-orang yang berilmu yang takut kepada Allah (Q.S. 35:28) bersama dengan para malaikat (Q.S. 3:18). Hannya orang-orang berilmu yang mampu memahmi hakikat sesuatu yang disampaikan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan (Q.S. 29:43). Karena itu, para nabi, sebagai manusia-manusia terbaik, dikaruniai pengetahuan.

Menurut Rasululah, manusia dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu : (1). Orang yang berilmu “’alim”. (2). Pencari imu “muta’alim” dan, (3) Orang awam. Para ilmuan – ulama- menurut sunnah nabi adalah perwaris para nabi, tinta mereka lebih mulia dari darah orang yang mati syahid. Allah akan memudahkan jalan ke surga bagi orang-orang berilmu, ilmuan akan berada di tengah-tengah para Nabi dan Syuhada’ di hadapan Allah di akhirat nanti”.[12]

F. Penutup

Secara mutawatir telah disepakati bahwa; komponen utama Islam melipiti, Aqidah, Syari’ah, Fiqh dan akhlak; ternyata tidak berdiri sendiri-sendiri dan sangat kuat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Bahkan al-Qur’an sebagai sumber utama Islam banyak mengingatkan kita tentang pentingnya ilmu pengetahuan sebagai pilar kemajuan kehidupan manusia, sehingga menuntut ilmu dalam Islam merupakan kewajiaban bagi Muslim dan Muslimat.

Sejarah telah membuktikan, masa kejayaan Islam ditandai dengan kemajuan pesat ilmu pengetahuan. Banyak para intelektual Islam berkedudukan sebagai penggali dan pengembang ilmu pengetahuan, bahkan ada diantara mereka pencetus bidang-bidang ilmu pengetahuan yang berkembang pada zaman modern ini.

Mereka membuat karakteristik dan kategorisasi khusus tentang ilmu, sebelum sekulerisasi “renaisan” merusak tatanan itu. Maka mengembalikan tatanan ilmu pengetahuan tersebut merupakan kewajiban bagi kita semua, agar perkembangan ilmu pengetahuan tidak lari dari fungsi sucinya.

Wallahu’alam bissawab


DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Cet. Ke-2.

Bakar, Osman. 1977. Hierarki Ilmu, menurut al-Farabi, al-Gazali, Quthb al-Din al-Syirazi. Bandung : Mizan.

Daud, Wan Mohd. Nor Wan. 1977. Konsep Pengetahuan dalam Islam. Bandung : Pustaka

Nasution,  Harun. 1986. Akal dan Wahyu, Jakarta : UI Press.

Ralbi, Osman. 1981. Akal dan Wahyu, Jakarta : Media Dakwah

Shihab, M. Quraish. 1996. Wawasan Al-Qur’an, Bandung : Mizan, cet ke-1

Qadir, C.A.. 1989. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Jakarta : Obor Indonesia.


[1] . M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, (Bandung : Mizan, cet ke-1, 1996), hal. 140.

[2] M. Daud Ali. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Cet. Ke-2. hal. 385

[3] Harun Nasution. 1986. Akal dan Wahyu, Jakarta : UI Press. Hal.12

[4] Osman Ralbi, 1981. Akal dan Wahyu, Jakarta : Media Dakwah. Hal. 37

[5] Harun Nasution, Op. cit. hal 23.

[6] M. Quraish Shihab. Op. cit. hal. 440

[7] Ibid. hal. 447

[8] Osman Bakar. 1977. Hierarki Ilmu, menurut al-Farabi, al-Gazali, Quthb al-Din al-Syirazi. Bandung : Mizan. hal. 18-19

[9] Ibid. hal.146-148

[10] C.A. Qadir. 1989. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam. Jakarta : Obor Indonesia. hal. 6

[11] Ibid. hal. 6-7

[12] Wan Mohd. Nor Wan Daud. 1977. Konsep Pengetahuan dalam Islam. Bandung : Pustaka. hal. 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: